Situs Islam: Klub Sekolah Mentoring Agama Islam

Arsip untuk Agustus, 2008

Apa Kata Mereka tentang Buku AMPUH

Ditulis oleh Ruswandi di/pada Agustus 6, 2008

“Ampuh mampu menuntun remaja menjadi cerdas dalam menentukan arah hidup dan mengubah pandangan mereka dari ‘mencari identitas diri’ menjadi ‘memiliki identitas diri’’ (Yane Ardhian, Model & Presenter TV)

“Buku ini mencoba menerjemahkan konsep belajar seumur hidup dan memberikan keyakinan bahwa suskses bisa tanpa batas jika anda cerdas tanpa batas” (M. Soekmono, Pakar Motivasi dan Senior Advisor PT. Paradhya Mitra Karti).

“Coba buku ini ada pada saat gue SMA dan awal-awal kuliah dulu…..” (Syahrul Gunawan, Bintang Sinetron)

“Penuh petunjuk bagaimana kita sebaiknya belajar sesuai dengan sifat-sifat kita, gaya kerja kita, gaya hidup kita” (Prof. Soemarmo Markam, Pakar Neurologi UI).

“Sisi perilaku (attitude) dan nilai (value) yang diuraikan secara sederhana bisa membantu remaja dan bahkan menjadikannya sebagai bagian dari kehidupannya” (Dewi Hughes, S.Pd, Presenter).

Buku Ampuh termasuk kategori Buku Laris versi Koran Kompas, Sabtu, 21 Agustus 2002.

Ditulis dalam Suplemen | Bertanda: , | Leave a Comment »

Metode Mentoring Islam

Ditulis oleh Ruswandi di/pada Agustus 6, 2008

Metode pendekatan yang digunakan adalah ceramah, game, dan diskusi. Dalam penyampaiannya, setiap materi membutuhkan waktu 60 menit (satu jam), dengan alokasi waktu sebagai berikut :

Langkah
Uraian
Waktu
Pembukaan
Mentor membuka pertemuan dan menyampaikan tujuan materi
5 menit
Game(optional)
Mentor melakukan simulasi sebagai pengantar materi
10 menit
Ceramah
Mentor menyampaikan isi materi
40 menit
Diskusi
Berdiskusi dan tanya jawab
10 menit
Penutup
Mentor menyimpulkan isi materi dan menutup pertemuan dengan do’a
5 menit

Do’a penutup majelis

“Mahasuci bagi-Mu, Ya Allah dan segala puji bagi-Mu, aku bersaksi tidak ada illah selain Engkau,aku memohon ampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu”

Blog ini sebatas panduan yang harus disempurnakan dengan membaca buku-buku referensi yang bersangkutan.

Ditulis dalam Senior | Bertanda: , , , | Leave a Comment »

Tadabur QS. Al Mu’minun: 1-11

Ditulis oleh Ruswandi di/pada Agustus 6, 2008

TUJUAN

· Peserta memahami makna QS. 13:1-11
· Peserta mengetahui sifat-sifat orang beriman
· Peserta mengetahui balasan bagi orang yang beriman

RINCIAN BAHASAN

1. Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman
2. (yaitu) orang-orang yang khusyu dalam shalatnya
3. Dan orang-orang yang menjadikan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna
4. Dan orang-orang yang menunaikan zakat
5. Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya.
6. Kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela
7. Barang siapa yang mencari di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas
8. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya
9. Dan orang-orang yang memelihara sholatnya
10. Mereka itulah orang yang mewarisi
11. (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus.Mereka kekal di dalamnya. (QS. 23:1-11)


Ayat-ayat di atas menerangkan tentang sifat-sifat yang dimiliki orang beriman serta balasan yang akan diperolehnya. Yang dimaksud dengan beriman adalah beriman kepada rukun iman yang enam (lihat catatan hadits). Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman. Karena walaupun mereka menurut perhitungan banyak mengerjakan amal kebajikan tetapi semua amalnya akan sia-sia saja di akhirat nanti, karena tidak berlandaskan iman kepada-Nya.

Adapun sifat-sifat orang yang beriman dalam ayat-ayat selanjutnya ialah:

1. Khusyu dalam shalat.Yang dimaksud khusyu di sini adalah:

· Mengerti bacaan-bacaan dalam sholat
· Memusatkan perhatian pada waktu shalat hanya kepada Allah serta dengan mengikhlaskan ketaatan.(QS.7:29)
· Ihsan dalam sholat (lihat catatan hadits)
· Tenang dan konsentrasi


2. Menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan tak berguna.

· Menjauhkan diri dari perkataan yang tidak berguna. Dari Abu Hurairah r.a. sesungguhnya Rasulullah saw telah bersabda : “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir,hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR.Bukhari-Muslim)
· Menjauhkan diri dari perbuatan yang tidak berguna, yaitu dengan menjaga waktu dan umurnya agar jangan sia-sia. Dari Abu Hurairah r.a. telah berkata, “Telah bersabda Rasulullah saw : “Sebagian kebaikan keislaman seseorang ialah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya. “Yang harus selalu diingat manusia dalam hal ini ialah Allah mencatat seluruh perbuatan manusia di dunia (QS.45:29) dan setiap manusia akan bertanggung jawab terhadap apa yang telah diperbuatnya di dunia (QS.17:36). Dan bahwa kematian pasti akan menemui kita, waktunya tidak dapat dimajukan atau ditunda.(QS. 10:49)


3. Menunaikan zakat.
Dengan berzakat seorang mukmin:

· Membersihkan diri dari sifat kikir dan cinta yang berlebihan pada dunia (QS. 9:103) karena dunia ini
· hanyalah suatu permainan dan senda gurau (QS. 29:64) yang seringkali melalaikan manusia dari kehidupan yang kekal di akhirat nanti.(QS.35:5)
· Mensucikan hati sehingga tumbuh sifat-sifat kebaikan dalam hati.(QS.9:103)


4. Menjaga kemaluan dari perbuatan keji (zina).Zina termasuk dosa besar dan merupakan jalan yang buruk (QS. 17:32). Imam Ahmad berkata, “Saya tidak mengetahui setelah pembunuhan ada dosa besar daripada perzinaan.”

5. Menahan pandangan dan memelihara kemaluan (QS. 24:30-31).Barangsiapa yang berbuat di luar hal itu, Allah menyebutnya sebagai orang yang melampaui batas.

6. Memelihara amanat dan menepati janji.
Bila seseorang tidak memegang amanat dan menepati janji, dikhawatirkan ia termasuk orang-orang munafik,”Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga, yaitu apabila berbicara dusta,apabila berjanji ingkar, dan apabila dipercaya khianat.”(HR.Syaikhani dari Abu Hurairah r.a.)
Orang-orang yang memelihara amanat dan janjinya akan dijanjikan Allah dengan balasan syurga.(QS. 70:32-35)

9. Memelihara sholat
Sholat adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang yang beriman.(QS. 4:103) Selain itu diperintah untuk memelihara sekaligus menegakkan sholat banyak disebutkan dalam al-Qur’an di antaranya QS. 2:43,238; 22:41.
Sholat adalah pembeda antara muslim dan kafir.Telah bersabda Rasulullah saw,”Beda antara muslim dan musyrik atau kafir adalah meninggalkan sholat.” (HR.Muslim)

Balasan bagi orang beriman yang memilki sifat-sifat di atas adalah syurga Firdaus. Umar r.a. meriwayatkan sebuah hadits yang Rasulullah bersabda, “Telah diturunkan kepadaku sepuluh ayat, barangsiapa yang menegakkannya akan mesuk syurga, lalu ia membaca sepuluh ayat ini dari permulaan surat al-Mu’minun.”

Catatan hadits
Dari Umar ra. juga telah berkata, “Ketika kami duduk dekat Rasulullah saw pada suatu hari maka dengan tiba-tiba terlihat oleh kami seorang laki-laki yang memakai pakaian yang sangat putih, berambut sangat hitam, tidak tampak padanya tanda-tanda perjalanan dan tidak seorang pun di antara kami yang mengenalnya, lalu ia duduk di hadapan Nabi saw dan meletakkan tangannya di atas paha Nabi saw, kemudian ia berkata ‘Hai Muhammad, jelaskan padaku tentang Islam’. Maka jawab Rasulullah ….. Lalu dia bertanya kembali, ‘Tolong jelaskan padaku tentang iman”. Jawab Nabi, ‘Hendaklah engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya,utusan-utusan-Nya, hari Kiamat dan hendaklah engkau beriman kepada qadar yang baik dan yang buruk’. Orang itu berkata, ‘Engkau benar’. Dia bertanya kembali, ‘Maka beritahukan kepadaku tentang ihsan’. Jawab Nabi saw, ‘Hendaklah engkau beribadah hanya kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya sekalipun engkau tak dapat melihat-Nya maka sesungguhnya Ia melihat engkau’. Kemudian orang itu pergi Aku diam sejenak, kemudian Nabi saw berkata, ‘Wahai Umar, tahukah engkau siapa yang bertanya tadi?’ Jawabku,’Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui’. Kata Nabi saw,’Dia adalah Jibril as. yang datang kepadamu untu mengajar tentang agamamu.”

REFERENSI

· Al-Qur’an dan Tafsirnya, Universitas Islam Indonesia
· Prof.D.Hamka, Tafsir Al-Azhar
· Syekh Mustafa Masyhur, Berjumpa Allah Lewat Sholat, GIP
· Abu Hudzaifah, Menundukkan Pandangan


Ditulis dalam Senior | Bertanda: , | Leave a Comment »

32. Tadabur Ayat QS Ali Imran: 190-191

Ditulis oleh Ruswandi di/pada Agustus 6, 2008

TUJUAN

· Peserta memahami hikmah dan pelajaran dari QS.3:190-191
· Peserta mengetahui ciri-ciri orang yang berakal (Ulil Albab)

RINCIAN BAHASAN
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan lanjut dan bumi (seraya berkata), “Ya Robb kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka dipeliharalah kami dari siksa neraka.”
(QS.3:190-191)

Salah satu cara mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah adalah dengan membaca dan merenungkan ayat-ayat-Nya yang terbentang di alam semesta. Dalam ayat ini, Allah menyuruh manusia untuk merenungkan alam, langit dan bumi. Langit yang melindungi dan bumi yang terhampar tempat manusia hidup. Juga memperhatikan pergantian siang dan malam. Semuanya itu penuh dengan ayat-ayat, tanda-tanda kebesaran Allah SWT.
Langit adalah yang di atas yang menaungi kita. Hanya Allah yang tahu berapa lapisnya, yang dikatakan kepada kita hanya tujuh. Menakjubkan pada siang hari dengan berbagai awan germawan, mengharukan malam harinya dengan berbagai bintang gemintang.
Bumi adalah tempat kita berdiam, penuh dengan aneka keganjilan. Makin diselidiki makin mengandung rahasia ilmu yang belum terurai. Langit dan bumi dijadikan oleh Al-Khaliq tersusun dengan sangat tertib. Bukan hanya semata dijadikan, tetapi setiap saat nampak hidup. Semua bergerak menurut aturan.
Silih bergantinya malam dan siang, besar pengaruhnya atas hidup kita dan segala yang bernyawa. Kadang-kadang malam terasa panjang dan sebaliknya. Musim pun silih berganti. Musim dingin, panas,gugur, dan semi. Demikian juga hujan dan panas. Semua ini menjadi tanda-tanda kebesaran dan keagungan Allah bagi orang yang berpikir. Bahwa tidaklah semuanya terjadi dengan sendirinya. Pasti ada yang menciptakan yaitu Allah SWT.
Orang yang melihat dan memikirkan hal itu, akan meninjau menurut bakat pikirannya masing-masing. Apakah dia seorang ahli ilmu alam, ahli ilmu bintang, ahli ilmu tanaman, ahli ilmu pertambangan, seorang filosofis, ataupun penyair dan seniman. Semuanya akan terpesona oleh susunan tabir alam yang luar biasa. Terasa kecil diri di hadapan kebesaran alam, terasa kecil alam di hadapan kebesaran penciptanya. Akhirnya tak ada arti diri, tak ada arti alam, yang ada hanyalah Dia, Yang Maha Pencipta. Di akhir ayat 190, manusia yang mampu melihat alam sebagai tanda-tanda kebesaran dan keagungan-Nya, Allah sebut sebagai Ulil Albab (orang-orang yang berpikir).
Dalam ayat 191, diterangkan karakteristik Ulil Albab, yaitu selalu melakukan aktivitas dzikir dan fikir sebagai metode memahami alam, baik yang ghaib maupun yang nyata.
Dzikir, secara bahasa berasal dari kata dzakara , tadzakkara, yang artinya menyebut, menjaga, mengingat-ingat. Secara istilah dzikir artinya tidak pernah melepaskan Allah dari ingatannya ketika beraktifitas. Baik ketika duduk, berdiri, maupun berbaring. Ketiga hal itu mewakili aktifitas manusia dalam hidupnya. Jadi,dzikir merupakan aktivitas yang harus selalu dilakukan dalam kehidupan. Dzikir dapat dilkukan dengan hati,lisan, maupun perbuatan. Dzikir dengan hati artinya kalbu manusia harus selalu bertaubat kepada Allah, disebabkan adanya cinta, takut, dan harap kepada-Nya yang berhimpun di hati (Qolbudz Dzakir). Dari sini tumbuh keimanan yang kokoh, kuat dan mengakar di hati. Dzikir dengan lisan berarti menyebut nama Allah dengan lisan. Misalnya saat mendapatkan nikmat mengucapkan hamdalah. Ketika memulai suatu pekerjaan mengucapkan basmalah. Ketika takjub mengucapkan tasbih. Dzikir dengan perbuatan berarti memfungsikan seluruh anggota badan dalam kegiatan yang sesuai dengan aturan Allah.
Fikir, secara bahasa adalah fakara, tafakkara yang artinya memikirkan, mengingatkan, teringat. Dalam hal ini berpikir berarti memikirkan proses kejadian alam semesta dan berbagai fenomena yang ada di dalamnya sehingga mendapatkan manfaat daripadanya dan teringat atau mengingatkan kita kepada sang Pencipta alam, Allah SWT.
Dengan dzikir manusia akan memahami secara jelas petunjuk ilahiyah yang tersirat maupun yang tersurat dalam al-Qur’an maupun as-sunnah sebagai minhajul hayah (pedoman hidup). Dengan fikir, manusia mampu menggali berbagai potensi yang terhampar dan terkandung pada alam semesta. Aktivitas dzikir dan fikir tersebut harus dilakukan secara seimbang dan sinergis (saling berkaitan dan mengisi). Sebab jika hanya melakukan aktivitas fikir, hidup manusia akan tenggelam dalam kesesatan. Jika hanya melakukan aktivitas dzikir, manusia akan terjerumus dalam hidup jumud (tidak berkembang, statis). Sedangkan, jika melakukan aktivitas dzikir dan fikir tetapi masing-masing terpisah, dikhawatirkan manusia akan menjadi sekuler.

Bagi Ulil Albab, kedua aktivitas itu akan berakhir pada beberapa kesimpulan:
· Allah dengan segala kebesaran dan keagungan-Nya adalah pencipta alam semesta termasuk manusia.
· Tiada yang sia-sia dalam penciptaan alam.Semua mengandung nilai-nilai dan manfaat.
· Mensucikan Allah dengan bertasbih dan bertahmid memuji-Nya.
· Menumbuhkan ketundukan dan rasa takut kepada Allah dan hari Akhir.


REFERENSI

· Al-Qur’an dan tafsirnya,Universitas Islam Indonesia
· Al-Qur’an dan Terjemahannya,Departemen Agama RI
· Prof. Dr.Hamka,Tafsir al-Azhar Juz IV, Pustaka Panjimas
· Majalah Nurul Fikri,Ulil Albab, Sosok Cendekiawan Versi al-Qur’an, No.4/II/Ramadhan 1411-Maret 1991


Ditulis dalam Senior | Bertanda: , , | Leave a Comment »

Tadabur Ayat QS. Al Hujurat: 10-13

Ditulis oleh Ruswandi di/pada Agustus 6, 2008


TUJUAN

· Peserta memahami hak-hak muslim terhadap saudaranya yang muslim
· Peserta mengetahui hal-hal yang dapat merusak persaudaraan
· Peserta memahami makna su’uzhon, ghibah, dan namimah
· Peserta memahami pentingnya persaudaraan dalam masyarakat

RINCIAN BAHASAN

· “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat nikmat.”
· “Hai orang-orang yang beriman,janganlah suatu kaum mengolok-olok suatu kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman, dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”
· “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjingkan sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”
· “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu ialah orang yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS.Al-Hujuraat: 10-13)

Allah SWT menegaskan dalam ayat 10 bahwa sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara seperti hubungan persaudaraan antara orang-orang seketurunan karena sama-sama menganut unsur keimanan yang sama dan kekal.

Setiap muslim memiliki hak atas saudaranya yang sesama muslim. Dalam hadits riwayat Bukhari dari Anas bin Malik, Rasulullah saw bersabda, “Orang muslim itu adalah saudara orang muslim,jangan berbuat aniaya kepadanya, jangan membuka aibnya, jangan menyerahkannya kepada musuh, dan jangan meninggikan bagian rumah sehingga menutup udara tetangganya kecuali dengan izinnya, jangan mengganggu tetangganya dengan asap makanan dari periuknya kecuali jika ia memberi segayung dari kuahnya. Jangan membeli buah-buahan untuk anak-anak, lalu dibawa keluar (diperlihatkan) kepada anak-anak tetangganya kecuali jika mereka diberi buah-buahan itu. “Kemudian Nabi saw bersabda, “Peliharalah (norma-norma pergaulan) tetapi (sayang) hanya sedikit di antara kamu yang memeliharanya. “Dalam hadits shahih lain yang dinyatakan, “Apabila seorang muslim mendo’akan saudaranya yang ghaib, maka malaikat berkata ‘Amin’, dan semoga kamu pun mendapat seperti itu.”

Dalam ayat 11 dan 12 Allah SWT menjelaskan bagaimana sebaiknya pergaulan di antara orang-orang beriman. Di dalamnya terdapat hal-hal yang diperingatkan Allah agar kaum beriman menjauhinya karena dapat merusak persaudaraan di antara mereka.

Diriwayatkan bahwa ayat 11 ini diturunkan berkenaan dengan tingkah laku kabilah Bani Tamim yang pernah berkunjung kepada Rasulullah saw lalu mereka memperolok-olokkan beberapa shahabat yang fakir-miskin, seperti Amar, Suhaib, Bilal, Khabbab, Salman al-Farisi, dll. karena pakaian mereka sangat sederhana.

Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah, sabda Rasulullah saw,”Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa dan hartamu tetapi Ia memandang kepada hati dan perbuatanmu.”

Pada ayat ini pula Allah menyebutkan wanita secara khusus sebagai peringatan terhadap kebiasaan tercela kaum wanita dalam bergaul. Terdapat riwayat yang melatarbelakangi turunnya ayat ini ialah berkenaan dengan kisah Shafiyah binti Huyay bin Akhtab yang pernah datang menghadap Rasulullah saw dan melaporkan bahwa beberapa wanita di Madinah pernah menegur dia dengan kata-kata yang menyakitkan hati, seperti: “Hai perempuan Yahudi,Keturunan Yahudi dan sebagainya”, sehingga Nabi saw bersabda kepadanya, “Mengapa tidak engkau jawab saja, ayahku Nabi Harun, pamanku Nabi Musa, dan suamiku adalah Muhammad.”

Dalam ayat 10 Allah SWT memperingatkan kaum mukmin supaya jangan saling mengolokkan karena boleh jadi kaum yang diperolok-olokkan pada sisi Allah jauh lebih mulia dan terhormat dari mereka yang mengolok-olokkan dan kaum wanita pun jangan saling mengolokkan karena boleh jadi wanita yang diperolok-olokkan pada sisi Allah lebih baik dari wanita yang mengolok-olokkan.Kemudian Allah SWT melarang kaum mukmin mencela diri mereka sendiri karena mereka bagaikan satu tubuh yang diikat dengan persatuan.

Dilarang pula panggil-memanggil dengan gelar yang buruk seperti panggilan kepada seseorang yang sudah beriman dengan kata-kata : hai fasik,kafir,dsb. Panggilan yang buruk dilarang diucapkan karena gelar-gelar buruk itu dapat mengingatkan kefasikan setelah beriman. Barang siapa tidak bertaubat dari memanggil dengan gelar-gelar buruk maka akan menerima konsekuensi dari Allah berupa azab pada Hari Kiamat.

Dalam ayat 12 Allah SWT memberi peringatan kepada orang-orang yang beriman, supaya mereka menjauhkan diri dari su’uzhan / prasangka buruk terhadap orang-orang beriman. Jika mereka mendengar sebuah kalimat yang keluar dari saudaranya yang mukmin maka kalimat itu harus diberi tanggapan dan ditujukan kepada pengertian yang baik, jangan sampai timbul salh paham, apalagi menyelewengkannya sehingga menimbulkan fitnah dan prasangka. Kemudian Allah SWT menerangkan penyebab wajibnya orang mukmin menjauhkan diri dari prasangka yaitu karena sebagian prasangka itu mengandung dosa.

Allah melarang pula ghibah,namimah, dan mencari-cari aib orang lain. Mengenai definisi ghibah, Rasulullah saw bersabda, “Ghibah ialah engkau menceritakan saudaramu tentang sesuatu yang ia benci. “Si penanya kembali bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu bila yang diceritakannya itu benar ada padanya? “Rasulullah menjawab, “Kalau memang benar ada padanya, itu ghibah namanya. Jika tidak benar engkau berbuat buhtan (dusta).”(HR.Muslim,Tirmizi,Abu Daud, dan Ahmad). Sedangkan namimah dapat dibagi menjadi hamz (mencaci maki) dan lamz (mencela).(QS.Al-Humazah: 1)

Rasulullah mengecam orang yang suka ghibah dan mencari-cari kesalahan orang. Diriwayatkan oleh Abi Barzah al-Islami, sabda Rasulullah saw, “Wahai orang-orang yang beriman dengan lidahnya, tetapi iman itu belum masuk juga dalam hatinya, jangan sekali-kali kamu berghibah (bergunjing) terhadap kaum muslimin dan jangan sekali-kali mencari noda atau auratnya. Karena barang siapa mencari-cari noda mereka, maka Allah akan membalas pula dengan membuka noda-nodanya. Dan barang siapa yang diketahui kesalahannya oleh Allah, niscaya Dia akan menodai kehormatannya dalam lingkungan keluarganya sendiri.”

Adapun beberapa pengecualian dibolehkannya ghibah adalah sbb:
· Orang yang mazlum (dianiaya) menceritakan keburukan orang yang menzaliminya dalam rangka menuntut haknya.
· Jika bertujuan memberi nasehat pada kaum muslimin tentang agama dan dunia mereka.
· Dilakukan dengan niat baik dan mengharapkan ridha Allah semata.

Pada ayat 13, Allah menjelaskan bahwa manusia diciptakan-Nya bermacam-macam bangsa dan suku supaya saling mengenal dan saling menolong dalam kehidupan bermasyarakat. Dan tidak ada kemuliaan seseorang di sisi Allah kecuali dengan ketakwaannya.

Dalam suatu hadits riwayat Abu Hatim yang bersumber dari Ibnu Mulaikah berkenaan turunnya ayat ini ialah bahwa ketika fathu Makkah, Bilal naik ke atas Ka’bah untuk adzan. Beberapa orang berkata, “Apakah pantas budak hitam adzan di atas Ka’bah?”. Maka berkatalah yang lain, “Sekiranya Allah membenci orang ini, pasti Allah akan menggantinya. “Maka datanglah malaikat Jibril memberitahukan kepada Rasulullah saw apa yang mereka ucapkan. Maka turunlah ayat ini yang melarang manusia menyombongkan diri karena kedudukan,pangkat, kekayaan, dan keturunan dan bahwa kemuliaan seseorang di sisi Allah dinilai dari derajat ketakwaannya.

Ayat ini juga menyatakan bahwa persaudaraan Islam berlaku untuk seluruh umat manusia tanpa dibatasi oleh bangsa, warna kulit, kekayaan dan wilayah melainkan didasari oleh ikatan aqidah. Persaudaraan merupakan pilar masyarakat Islam dan salah satu basis kekuatannya. “Seorang mukmin terhadap mukmin yang lainnya bagaikan bangunan yang saling mengikat dan menguatkan serta bagaikan jalinan antara jari-jemari.” (HR.Muttafaq’alaih dari Abu Musa r.a.)

Rasulullah saw pernah menganggap persaudaraan antar umat Islam adalah basis yang sangat penting sehingga hal yang dilakukan beliau adalah mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar secara formal satu dengan yang lainnya ketika hijrah ke Madinah.

REFERENSI

· Al-Qur’an dan Tafsirnya, Universitas Islam Indonesia
· Ibnu Taimiyah,Imam Suyuthi,Imam Syaukani,Ghibah,Pustaka Al-Kautsar
· KH.Salah,dkk.,Asbabun Nuzul, Latar Belakang Historis Turunnya Ayat-ayat Al-Qur’an,C.V. Diponegoro
· Ahmad Yani Wahid,Refleksi Ukhuwah,Telaah Persaudaraan Muslim,C.V. Tursina


Ditulis dalam Senior | Bertanda: , , | Leave a Comment »

Simbol Sukses

Ditulis oleh Ruswandi di/pada Agustus 6, 2008

TUJUAN

· Peserta mengetahui makna dan simbol sukses
· Peserta mengetahui hakikat sukses dalam Islam
· Peserta mengetahui langkah-langkah menuju sukses hidup dalam Islam

RINCIAN BAHASAN

Pengertian simbol sukses

· Simbol berarti abstraksi atau representasi dari suatu hal yang konkrit. Sebuah simbol baru berlaku jika sudah ada kesepakatan tentang simbol tersebut. Simbol “$” belum dapat dikatakan mata uang Dollar sebelum seluruh dunia menyepakatinya.
· Sukses berarti berhasil, atau dapat dikatakan tercapainya sesuatu yang dikehendaki atau diinginkan. Sukses bersifat relatif tergantung dari pengetahuan seseorang tentang hakekat sukses yang sebenarnya. Dengan definisi ini hanya orang yang bersangkutan yang dapat menilai apakah ia telah sukses. Orang lain dapat saja menilai bahwa orang kaya itu telah sukses, padahal bukan kekayaan yang diinginkannya, tetapi ketenangan jiwa, maka ia belum merasa dirinya sukses dalam hidup.


Langkah hidup
Langkah-langkah untuk mencapai sukses dalam kehidupan disebut langkah hidup.

1. Pikiran adalah langkah hidup

Pikiran manusia bukan saja sebagai tool (alat), tetapi juga merupakan suatu control (kendali). Karena pikiran kita juga merupakan suatu control berarti dia ikut menentukan apa-apa yang akan kita lakukan.Itulah sebabnya kita harus berhati-hati dalam memberikan input (masukan) ke dalam pikiran kita. Kita harus selalu memeriksa isi pikiran kita dan mengisinya dengan pemikiran yang bersih.

2. Ucapan adalah langkah hidup

Ungkapan “Bicara adalah perak, diam adalah emas” tidaklah seluruhnya benar. Yang membedakan ucapan adalah nilai dan isi yang terkandung di dalamnya. Ucapan yang mempunyai nilai dan isi yang baiklah yang akan menyelamatkan kita. Dan yang sebaliknya akan ‘membinasakan’ kita. “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari Kiamat,berkatalah yang baik atau diam.”(HR.Bukhari dan Muslim)
“Barang siapa yang menjamin untukku dengan apa yang ada di antara dua tulang rahangnya dan di antara dua kakinya, maka aku jamin syurga baginya.”(HR.Bukhari)
Ucapan dapat lebih melukai daripada pedang, oleh karena itu ucapan perlu dijaga. Imam Ghazali dalam kitab Ihya ‘Ulmuddin membahas khusus satu bab tentang bahaya lisan yang menunjukkan bahaya lisan jika tidak benar ini akan berakibat tidak saja di dunia, tetapi juga di akhirat.Sekali berbohong di dunia orang tidak akan mempercayainya lagi dan Allh sangat murka terhadap orang yang mengatakan apa yang tidak dilakukannya. (QS.Ash-Shaf:2-3)

3. Tindakan adalah langkah hidup

Seseorang membutuhksn tindakan untuk mencapai sukses.Jika tindakan (amal) yang dilakukan itu kebajikan, maka berlakulah ‘barang siapa menanam, dia akan memetik hasilnya’. Sebaliknya, jika tindakannya berupa kemaksiatan, maka berlakulah ‘barang siapa menggali lubang, maka ia akan terperosok ke dalamnya’. Kedua prinsip tersebut berlaku di dunia dan di akhirat, atau kedua-duanya. Bukankah manusia hanya berusaha sedangkan Allahlah yang menentukan?(QS.13:11)


Simbol sukses dan simbol gagal
Pikiran, ucapan, dan tindakan adalah faktor internal manusia. Ketiganya merupakan langkah hidup. Setiap langkah hidup yang semakin mendekatkan seseorang ke tujuan yang dikehendaki disebut sebagai simbol sukses. Sedangkan, sebaliknya adalah simbol gagal.

Faktor eksternal yang juga ikut menentukan langkah hidup di antaranya adalah lingkungan. “Sesungguhnya perumpamaan bergaul dengan teman yang baik dan orang yang jahat adalah seperti bergaul dengan penjual minyak wangi dan pandai besi. Teman penjual wangi itu boleh jadi akan memberi minyak wangi kepadamu atau kamu dapat membelinya atau paling tidak kamu akan mendapat bau harum daripdanya. Sedangkan teman pandai besi boleh jadi akan membuat pakaianmu berlubang (terbakar) atau paling tidak kamu ikut hangus dengannya.” (HR.Bukhari-Muslim)

Peranan niat dalam mencapai sukses
Kita harus yakin bahwa sukses yang kita kejar di dunia ini semata-mata karena mengharapkan ridho-Nya. Bukan karena mengharapkan ridho manusia.

Sukses di atas sukses. (QS.3:185; 98:8)

Tipe-tipe manusia:

· Tipe manusia yang memiliki simbol gagal.Gagal di dunia dan di akhirat
· Tipe manusia yang memiliki simbol sukses, tetapi tidak memiliki niat ikhlas.Sukses di dunia, tetapi gagal di akhirat.
· Tipe manusia yang memiliki simbol sukses dan didasari oleh niat yang ikhlas.Sukses di dunia dan di akhirat.

REFERENSI

· Paket BP Nurul Fikri,Simbol Sukses

Ditulis dalam Senior | Bertanda: , , , | 1 Komentar »

Ilmu Allah

Ditulis oleh Ruswandi di/pada Agustus 6, 2008

TUJUAN

· Peserta memahami sifat dan kualitas Ilmu Allah
· Peserta mengetahui jalan-jalan turunnya Ilmu Allah
· Peserta mengetahui bukti-bukti Ilmu Allah

RINCIAN BAHASAN
Jika suatu saat manusia mau merenung dan mengamati alam semesta ini maka akan terlintas banyak sekali pertanyaan dalam pikiran. Siapakah yang menegakkan langit, mengucurkan hujan, dan melukis pelangi? Siapakah pula yang mengatur pergantian matahari dan bulan sehingga tidak saling berlomba, menyusun tata surya sehingga tidak saling bertabrakan? Lalu siapa pula yang mengajarkan burung terbang dan ikan berenang?
Dan jika saat itu manusia mau jujur terhadap hati nuraninya, maka ia akan mengakui bahwa ada sesuatu zat yang maha segalanya yang merupakan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tadi.”Dialah Allah, Khalik (Yang menciptakan), Yang mengadakan, Yang membentuk rupa, Yang memiliki Asma’ul Husna (nama-nama yang baik) bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.(Al-Hasyr :24)
Sebagai konsekuensi logis dari Allah Maha Pencipta yang meliputi ekosistem zahir/fisik, meliputi alam semesta, manusia, flora dan fauna dan ekosistem batin/metafisik,meliputi alam ruh, jin dsb, ialah Allah pulalah yang berhak disebut Al-’Aliim (Maha Mengetahui). (QS. 59:22) Aksioma berlaku: Yang mencipta lebih tahu terhadap yang diciptakan.
Ilmu Allah tidak dapat ditimbang oleh manusia, ia mencakup semua yang ada dan yang mungkin ada.”Katakanlah, ,jika sekiranya lautan menjadi tinta untuk menulis kalimat-kalimat Rabb-Ku sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Rabb-Ku meskipun Kami datangkan sebanyak itu (pula).” (QS. 18:109) “Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta) ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering), niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah.Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. Luqman : 27)

Sifat ilmu Allah:
1. Bersifat pasti.Allah menciptakan segala sesuatu dan menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi- rapinya (QS. 25:2; 15:21)
2. Bersifat objektif. (QS.41:53)
3. Perintah Allah berlaku pada ciptaan-Nya (yang merupakan hasil Ilmu-Nya)

Kualitas Ilmu Allah:

Ilmu Allah tak dapat dibandingkan dengan ilmu siapapun dan Allah Mengetahui yang ghaib dan yang tersembunyi. (QS.18:109; 31:27; 31:16; 40:19)

Hakikat Ilmu Allah
Allah menggunakan dua jalur dalam mengajarkan ilmu-Nya kepada manusia:
1. Jalur formal/resmi
· Dalam bentuk wahyu
Sistem penyampaiannya berstruktur, melalui malaikat,rasul,sahabat, tabi’iin, tabi’it tabi’in hingga ulama akhir zaman. Tidak langsung disampaikan ke seluruh manusia. Manusia tidak akan sanggup berhadapan langsung dengan Allah hatta itu seorang Nabi Musa as. (QS.7:143; 42:51) Hadits Rasul,”Ulama itu pewaris para nabi”. (HR.Abu Daud- At-Tirmizi)
2. Jalur informal
· Dalam bentuk ilham/ inspirasi
Sistem penyampaiannya mandiri, diperuntukkan bagi siapa saja, baik beriman maupun kafir yang mau mengadakan mubasyarah (pengamatan) terhadap alam semesta. Barangsiapa yang berusaha, maka dia akan mendapatkan. (QS.29:69)

Bukti Ilmu Allah:
1. Ayatul Kauniyah, yaitu ayat-ayat Allah yang terhampar di alam, merupakan bukti yang mendukung kebenaran ayatul qouliyah (3:109). Ayat-ayat Kauniyah ini merupakan sarana bagi kehidupan manusia. Manusia harus melakukan eksperimen/percobaan dalam mengembangkan dan memanfaatkannya untuk kemashlahatan hidupnya. Kebenaran yang diperoleh dari eksperimen tersebut, sifatnya relatif dan empiris.
2. Ayatul Qouliyah, yaitu ayat-ayat Allah yang terkandung di dalam al-Qur’an, merupakan petunjuk untuk menemukan fakta empiris ayatul kauniyah.Ayat kauliyah ini harus dijadikan pedoman hidup bagi manusia, sebab kebenarannya adalah mutlak. (2:185)
Mempelajari ayat-ayat Allah tidak hanya ayatul qouliyah saja, tetapi diikuti dengan mempelajari ayatul kauniyah.
· Dengan mempelajari ayatul qouliyah, pengenalan terhadap Allah menjadi tepat dan akurat. Dengan mempelajari ayatul kauniyah, pengenalan terhadap Allah menjadi meluas dan mendalam.
· Hubungan ayat qouliyah dan ayat kauniyah.
Ayat qouliyah memberikan isyarat bagi manusia agar ayat kauniyah (ayat) dimanfaatkan. Ayat kauniyah memberikan bukti atas kebenaran informasi dari ayat qouliyah.
· Melepaskan hubungan antara keduanya dapat melemahkan manusia.
· Mempelajari ayatul kauniyah dengan melepaskan ayatul qouliyah akan mengakibatkan kehancuran manusia di akhirat.Sebaliknya mempelajari ayatul qouliyah dengan melepaskan ayatul kauniyah akan mengakibatkan kehancuran di dunia.
Kedua bukti Ilmu Allah ini harus dipelajari secara seimbang dan berkesinambungan. Sungguh ironis jika saat ini umat Islam kurang memperhatikan baik ayat qouliyah maupun ayat kauniyah. Tetapi memang yang perlu diingat bagi umat Islam dalam mengejar ketinggalannya ada hal yang sangat penting untuk dijadikan prioritas utama yaitu Aqidah Islam dan akhlak Islam,dsb. Bagi kita yang terpenting bukanlah The technology, tetapi The man behind the technology.

Ayat qouliyah yang diberikan Allah sebenarnya merupakan petunjuk hidup bagi manusia (QS. 2:2,185) karena Dialah Sang Pencipta yang paling tahu akan akan ciptaannya, dan Allah sendiri yang akan membuktikan bahwa al-Qur’an itu benar (QS.Fushilat: 53). Al-Qur’an ini merupakan operation manual bagi manusia di dunia. Suatu barang yang tidak berfungsi dengan baik tidak dapat dikatakan bahwa letak kesalahannya pada operation manualnya, tetapi mungkin pada orang yang mengoperasikannya yang belum sesuai dengan petunjuk yang telah diberikan. Hal ini juga berlaku terhadap al-Qur’an.    Manusialah yang seharusnya menyesuaikan diri dengan al-Qur’an semaju atau semodern apapun zaman itu. Sangat picik jika ada sementara orang yang mengatakan bahwa al-Qur’an perlu direaktualisasikan atau diperbarui apalagi diubah bahkan diganti. Mereka hanya ingin menguntungkan kepentingannya saja. Allah menyindir mereka dalam firman-Nya, “Apakah dalam hati mereka ada penyakit, atau mereka takut kalau Allah dan Rasul-Nya memperlakukan mereka secara tidak adil? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang tidak adil (dzolim)”. (QS.24:50)
Lain halnya dengan ayat kauniyah yang merupakan sarana hidup bagi manusia. Ini memang disediakan Allah untuk dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk manusia. Maka ia perlu pembaruan dan perbaikan agar usaha-usaha manusia lebih efektif dan efisien sebagaimana fungsi manusia sebagai khalifatullah fil ardhi.
Jika saja manusia berpegang teguh kepada petunjuk hidup yang telah disediakan dan mau memikirkan ayat-ayat kauniyah yang terbentang di alam semesta, niscaya kita akan meraih kejayaan Islam di muka bumi dan akan menunjukkan bahwa Islam rahmatan lil’alamin.

DISKUSI
Furqon, seorang siswa sebuah SMU yang cukup bergengsi di kotanya, belakangan ini sedang dilanda kebimbangan. Ia sudah cukup banyak belajar al-Islam mulai dari ikut pengajian-pengajian di sekolah maupun di dekat rumahnya sampai membaca beberapa buku-buku Islam. Ia sudah sering mendengar dan membaca tentang kejayaan Islam terdahulu terutama dalam penguasaan IPTEK-nya.
Tetapi ia menemukan hal yang sangat bertolak belakang saat ia menonton TV. Berita-berita tentang dunia Islam selalu saja negatif. Umat Islam identik dengan kebodohan, terbelakang, miskin, kerjanya hanya berperang saja. Sebaliknya negara-negara lainnya selalu diberitakan keberhasilannya membuat inovasi-inovasi baru dalam IPTEK. Ia bertanya mengapa mereka yang terlihat jauh dari agama bahkan sudah ditinggalkannya justru semakin maju, mengapa umat Islam yang sudah diberikan petunjuk hidup lengkap tidak dapat seperti itu. Apa yang salah pada diri umat Islam? Ataukah berita-berita yang diterimanya selama ini tidak fair? Bagaimanakah caranya agar umat Islam dapat mencapai kejayaannya seperti kisah-kisah di zaman kekhalifahan dahulu?
Terkadang terlintas di benaknya apakah Allah tidak adil? Astaghfirullah, cepat-cepat ia membuang pikiran tersebut jauh-jauh dari benaknya.


REFERENSI

· Paket BP Nurul Fikri, Ilmu Allah


Ditulis dalam Senior | Bertanda: , , | Leave a Comment »

28. Birrul Walidain

Ditulis oleh Ruswandi di/pada Agustus 6, 2008

TUJUAN

· Peserta memahami pentingnya berbakti kepada orang tua sebagai bagian dari ibadah
· Peserta mengetahui contoh-contoh praktis berbakti kepada orang tua dalam kehidupan sehari-hari.



RINCIAN BAHASAN


Pengertian Birrul Walidain
Berbuat baik terhadap orang tua (birrul walidain) adalah memberi kebaikan atau berkhidmat kepada keduanya serta mentaati perintahnya (kecuali yang ma’siat) dan mendoa’kannya apabila keduanya telah wafat.
Ibu dan Bapak sebagai orang tua sudah selayaknya mendapatkan kebaikan dan penghormatan dari anaknya. Islam sangat perhatian mengenai masalah ini, sebagaimana sangat jelas ditegaskan dalam firman Allah yang berbunyi:
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) terhadap kedua orang tuanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah, bahkan menyusukan pula selama kurang lebih 2 tahun. Maka dari itu bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada-Ku sajalah tempat kamu kembali” (QS.31:15). Juga dapat dilihat dalam surat 4:36
Jelaslah bahwa Birrul Walidain adalah kewajiban setiap anak dalam kerangka ta’at kepada perintah Allah.

Bentuk-bentuk Birrul Walidain
Berbuat baik kepada orang tua dapat dilakukan dalam dua kesempatan:


Saat orang tua masih hidup:

· Mentaati selama bukan maksiat. Hadits Rasulullah: “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam rangka maksiat kepada Allah”.

Contoh: Kisah Sa’ad bin Abi Waqosh.

· Bersikap rendah hati dan berbicara lemah lembut (QS.17:23)
· Memohonkan ampunan baginya kepada Allah (mendoa’kan) (QS.17:24)
· Membantu dengan harta
· Memintakan restunya terlebih dahulu atas perbuatan penting yang akn dilakukan.

Hadits Rasulullah: “Ridho Allah ada dalam Ridho orang tua, Murka Allah juga ada dalam Murkanya orang tua”.


Saat orang tua telah wafat:

· Menyelenggarakan pengurusan jenazahnya seperti: memandikannya, mengkafaninya, menshalatkannya dan menguburkannya,dsb.
· Senantiasa berdo’a untuk memohonkan ampun atas segala dosanya.
· Memenuhi segala janjinya semasa hidup yang belum terlaksana seperti: wasiat, hutang piutang, dll.
· Menghormati teman dan sahabat orang tua semasa keduanya masih hidup.

Rasulullah Muhammad S.A.W bersabda :
” Seorang laki-laki dari golongan Anshar mendatangi Rasulullah , lalu bertanya : ‘Apakah yang tinggal bagiku untuk dapat berbuat kebaikan terhadap Ibu-Bapakku setelah mereka meninggal ya Rasulullah ? Rasul menjawab : ‘Ada 4 macam yang dapat anda lakukan : menshalatkannya, memohonkan ampun segala dosanya, memenuhi janjinya dan juga menghormati teman dan sahabatnya. (HR. Muslim)
Dari kisah-kisah yang telah lalu banyak peristiwa yang dapat dijadikan tauladan atau i’tibar tentang bagaimana orang-orang yang baik terhadap orang tuanya dan bagaimana pula sebaliknya orang yang durhaka. Tauladan yang baik misalnya kisah-kisah nabi Ibrahim, nabi Ismail, dll. Sebaliknya bagaimana pula akibat buruk yang ditimpakan kepada anak yang durhaka , seperti Abdullah bin Salam, dll.

DISKUSI

· Fitri seorang muslimah. Ketika masuk SMA ia ingin mengenakan busana muslimah yang sempurna. Namun dilarang oleh orang tuanya dengan alasan akan sulit mendapatkan jodoh, pekerjaan. Menurutmu bagaimana sikap Fitri sebaiknya, apakah dia tetap mengenakan busana muslimah atau menurut kata orang tuanya ?
· Agung seorang muslim tetapi mempunyai ibu dan ayah yang beragama Nasrani. Suatu saat Agung diminta orang tuanya mengikuti Natalan bersama. Menurutmu bagaimana sikap Agung seharusnya?

REFERENSI

· Ansyur, Ahmad Isa. Berbakti kepada Ibu Bapak, GIP


Ditulis dalam Senior | Bertanda: , , | Leave a Comment »

27. Tarbiyah Ruhiyah

Ditulis oleh Ruswandi di/pada Agustus 6, 2008

TUJUAN

· Peserta memahami hakikat taqwa dan balasan bagi orang-orang yang bertaqwa
· Peserta mengetahui jalan mencapai sifat taqwa

RINCIAN BAHASAN

Hakikat Taqwa
Ungkapan para sahabat dan ulama:

· Taqwa : merupakan konsekuensi logis dari keimanan yang kokoh yang dipupuk dengan muraqabatullah, merasa takut terhadap murka dan azab-Nya dan selalu berharap atas limpahan karunia dan maghfiroh-Nya.
· Taqwa : Hendaklah Allah tidak melihat kamu berada dalam larangan-larangan-Nya dan tidak kehilangan kamu di dalam perintah-perintah-Nya.
· Taqwa : Mencegah diri dari azab Allah dengan berbuat amal sholeh dan takut kepada-Nya di kala sepi ataupun terang-terangan.
· Taqwa : Hendaklah kamu berbuat taat kepada Allah, berada di atas cahaya-Nya dan takut kepada siksa-Nya (Ibnu Mas’ud)


Balasan bagi orang-orang bertaqwa

· Diberikan furqon dan diampuni dosanya (QS.8:29)
· Diberikan rahmat dan cahaya hidayah dari Allah (QS.57:28)
· Diberikan jalan keluar dan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka (QS.65:2-3)
· Dimudahkan oleh Allah segala urusan (QS.65:4)
· Ditutupi kesalahan-kesalahan dan dilipatgandakan pahala baginya oleh Allah (QS.65:5)
· Mendapatkan berkah dari Allah (QS.7:96)


Jalan menuju taqwa

1. Mu’ahadah (mengingat perjanjian) QS.16:9

Caranya : Hendaklah seorang mu’min berkholwat (menyendiri) untuk menginstropeksi diri. Hanya antara dia dengan Allah. Ingatlah bahwa setiap hari kita berjanji dengan Allah minimal 17x dalam sholat. “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in”.

2. Muraqabatullah (merasakan kesertaan Allah) QS.26:218-219)

Makna : merasakan keagungan Allah di setiap waktu dan keadaan serta merasakan kebersamaan-Nya di kala sepi ataupun ramai.
Cara : Sebelum memulai suatu pekerjaan dan disaat mengerjakannya, hendaklah seorang mu’min memeriksa dirinya: Apakah setiap gerak dalam melaksanakan amal dan ketaatannya dimaksudkan untuk kepentingan pribadi dan mencari popularitas atau karena dorongan ridho Allah dan menghendaki pahala-Nya?
Macam-macam muraqabatullah :

· Muraqabatullah dalam melaksanakan keta’atan : ikhlas
· Muraqabatullah dalam kemaksiatan : taubat, penyesalan dan meninggalkannya
· Muraqabatullah dalam hal yang mubah : menjaga adab-adab terhadap Allah dan bersyukur atas nikmat-Nya
· Muraqabatullah dalam musibah : ridho kepada ketentuan Allah serta memohon pertolongan-Nya dengan penuh kesabaran

3. Muhasabah (instropeksi diri) QS.59:18

Cara : Hendaklah seorang mu’min menghisab dirinya ketika selesai melakukan amal perbuatan: Apakah tujuan amalnya untuk mendapatkan ridho Allah? Atau apakah amalnya dirembesi sifat riya’? Apakah ia sudah memenuhi hak-hak Allah dan hak-hak manusia?

4. Mu’aqobah (Pemberian Sanksi) QS.2:179

Tujuan : Jika seorang mu’min berbuat kesalahan maka tak pantas untuk membiarkannya, sebab akan mempermudah terlanggarnyakesalahan yang lain dan akan sulit meninggalkannya. Karena jika seseorang melakukan maksiat biasanya akan diikuti dengan maksiat yang lain
Perkataan Ibnul Qoyyim Al Jauziyah : Pada dasarnya manusia yang sudah terperangkap dalam kemaksiatan akan merasa sulit untuk keluar dan melepaskan diri darinya sebagaimana diucapkan oleh ulama salaf:
“Diantara dampak negatif maksiat adalah menimbulkan maksiat yang lain. Sedangkan pengaruh kebaikan adalah mendatangkan kebaikan berikutnya. Maka jika seorang hamba melakukan suatu kebaikan, kebaikan yang lainnya akan meminta untuk dilakukan, begitu seterusnya hingga hamba tersebut memperoleh keuntungan yang berlipat ganda dan kebaikan yang tiada sedikit Begitu pula halnya dengan kemaksiatan. Dengan demikian, ketaatan dan kemaksiatan merupakan sifat yang kokoh dan kuat serta menjadi kebiasaan yang yang teguh pada diri si pelaku”.
Syarat : sanksi ini harus dengan sesuatu yang mubah, tidak boleh dengan yang haram atau mencelakakan (QS.2:195;4:29)

5. Mujahadah (optimalisasi) QS.29:69

Caranya : Apabila seorang mu’min terseret dalam kemalasan, santai, cinta dunia, dan tidak lagi melaksanakan amal-amal sunnah serta ketaatan yang lainnya tepat pada waktunya; maka ia harus memaksa dirinya melakukan amal-amal sunnah lebih banyak dari sebelumnya.


Hal-hal yang harus diperhatikan :

· Hendaklah amal-amal yang sunnah tidak membuatnya lupa akan kewajiban yang lainya
· Tidak memaksakan diri dengan amal-amal sunnah yang di luar kemampuannya.

REFERENSI

· Dr. Abdullah Nasih Ulwan, Tarbiyah Ruhiyah: Petunjuk praktis mencapai derajat taqwa.
· Al-Hafidz Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah, Akibat berbuat maksiat.

Ditulis dalam Senior | Bertanda: , , , | Leave a Comment »

Ghozwul Fikri

Ditulis oleh Ruswandi di/pada Agustus 5, 2008

TUJUAN

· Peserta memahami makna dan hakikat Ghozwul Fikri
· Peserta memahami sarana, metode dan hasil-hasil dari Ghozwul Fikri

PETUNJUK/ATURAN PERMAINAN
Games 1
Membedakan dua benda yang amat berlainan (misalnya kapur dan tissue)

· Langkah 1

Para mad’u harus menyebutkan dengan cepat setiap benda yang diangkat oleh mentor (dilakukan beberapa kali)

· Langkah 2

Sekarang benda ditukar namanya. Jika kapur diangkat, peserta harus menyebtnya sebagai tissue, begitu pula sebaliknya. Pada awalnya peserta akan mengalami kesulitan karena belum terbiasa. Tapi lama kelamaan akan terbiasa.

· Hikmah

Itulah Ghozwul Fikri. Pada awalnya nilai-nilai keislaman itu sudah jelas dan pasti. Tetapi musuh Islam berusaha menghilangkan nilai keislaman dari umat Islam secara perlahan-lahan.
Maka disodorkanlah pada muslimin nilai yang tidak islami. Mula-mula umat Islam tidak menerimanya (tidak terasa) tapi lama kelamaan karena usaha mereka yang terus menerus ditambah umat Islam yang malas mengkaji Al Qur’an dan Sunnah, maka umat Islam akan larut dan tenggelam dengan nilai-nilai non Islam tersebut. Bahkan nilai-nilai yang menyimpang dengan Islam sudah dianggap biasa. Dan sebaliknya ketika disodorkan nilai-nilai Islam mereka tidak mau menerima Islam dan menjauh, seperti yang terjadi sekarang ini.


Games 2
Al Qur’an di tengah karpet

· Langkah 1

Al Qur’an diletakkan di tengah-tengah karpet yang lebar.
Peserta diperintahkan untuk mengambil Al Qur’an tadi tanpa menyentuh karpet (sulit/tidak bisa)

· Langkah 2

Peserta diberitahu cara untuk mencapai Al Qur’an tanpa harus menginjak karpet, yaitu dengan cara menggulung karpet sampai tengah dan dapat mengambil Al Qur’an.

· Hikmah

Usaha musuh-musuh Islam untuk menghancurkan Islam tidak lagi dengan menginjak-injak kaum muslimin melainkan dengan mengambil jiwa Al qur’an dalam jiwa mereka dengan cara perlahan-lahan dan mebuai serta tahap demi tahap tanpa disadari umat Islam.

RINCIAN BAHASAN
Sebuah ilustrasi
Suatu ketika di Perang Salib, seorang petinggi kaum Palangis (pasukan kristen) tertangkap oleh pejuang-pejuangpenegak agama Allah dan ditawan. Sang petinggi ini diperlakukan sangat baik selama ditawan. Ada satu hal yang membuatnya berfikir. Setiap malam ia memperhatikan sang penjaga berlinangan air mata saat membaca kitab sucinya. Ia tak habis fikir bagaimana seorang yang begitu perkasa di siang hari di medan tempur dapat menangis sedemikian rupa di malam hari ketika membaca Al Qur’an. Akhirnya ia sampai kepada suatu kesimpulan bahwa disitulah letak kekuatan kaum Muslimin. Selama beberapa pertempuran fisik mereka tidak berhasil mengalahkan kaum muslimin, ternyata ada suatu sumber kekuatan yang maha dahsyat yang memberikan motivasi yang begitu kuat bagi kaum Muslimin. Ia lalu mengirim surat kepada pasukannya yang mengabarkan bahwa jika ingin mengalahkan kaum Muslimin tidak dapat secara fisik tetapi mereka harus dijauhkan terlebih dahulu dari kitab sucinya. Dan memang kemenangan mereka setelah umat Islam mulai jauh dari Al Qur’an.
Sementara itu tujuh abad kemudian, Samuel Zuaimir ketua Asosiasi Agen Yahudi pada sebuah konferensi di Yerussalem dalam pidatonya mengatakan…….. tujuan misi yang telah diperjuangkan bangsa Yahudi dengan megirim saudara ke negara-negara Islam, bukanlah mengharapkan kaum Muslimin beralih ke agama Yahudi……… Tetapi tugasmu adalah mengeluarkan mereka dari Islam dan tidak berpikir mempertahankan agama Allah atau berdialog dengan-Nya.

Pengertian Ghozwul Fikri

· Secara bahasa

Ghozwul fikri terdiri dari dua kata : ghozwah dan fikr. Ghozwah berarti serangan, serbuan atau invasi. Fikr berarti pemikiran. Serangan atau serbuan di sini berbeda dengan serangan dan serbuan dalam qital (perang).

· Secara istilah

Penyerangan dengan berbagai cara terhadap pemikiran ummat Islam guna merubah apa yang ada di dalamnya sehingga tidak lagi bisa mengeluarkan darinya hal-hal yang benar karena telah tercampur aduk dengan hal-hal tak islami.

Sasaran GF

· Berusaha memasukkan yang sudah kosong islamnya ke dalam agama kafir. QS.2:217, Menjauhkan umat Islam dari Dien (agama)-nya. (QS.17:73, 5:49)
· Agar umat Islam mengikuti agama kafir (QS.2:120)
· Memadamkan cahaya (agama ) Allah. (QS.61:8, 9:32)


Metode GF

· Membatasi supaya Islam tidak tersebar luas

· Tasykik (pendangkalan/peragu-raguan)

Gerakan yang berupaya menciptakan keragu-raguan dan pendangkalan kaum muslimin terhadap agamanya.

· Tasywih (pencemaran/pelecehan)

Upaya orang kafir untuk menghilangkan kebanggaan kaum muslimin terhadap Islam dengan menggambarkan Islam secara buruk.

· Tadhlil (penyesatan)

Upaya orang kafir menyesatkan umat mulai ari cara yang halus sampai cara yang kasar.

· Taghrib (pembaratan/westernisasi)

Gerakan yang sasarannya untuk mengeliminasi Islam, mendorong kaum muslimin agar mau menerima seluruh pemikiran dan perilaku barat.

Menyerang Islam dari dalam:

· Penyebaran faham sekulerisme
· Berusaha memisahkan antara agama dengan kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
· Penyebaran faham nasionalisme.
· Nasionalisme membunuh ruh ukhuwah islamiyah yang merupakan azas kekuatan umat Islam.

“Bukan dari golonganku orang yang mengajak pada ashobiyah dan bukan golonganku orang yang berperang atas dasar ashobiyah dan bukan ari golonganku orang yang mati karena ashobiyah”.

· Pengrusakan akhlak umat Islam terutama para pemudanya.


Sarana GF

· Mass Media: cetak dan elektronika


Hasil GF

· Umat Islam menyimpang dari Al Qur’an dan As Sunnah QS.25:30
· Minder dan rendah diri QS.3:139
· Ikut-ikutan QS.17:36
· Terpecah-belah QS.30:32

DISKUSI
Amir sejak lama mempunyai kebiasaan yang sangat baik. Setiap hari ia pasti menyempatkan waktu untuk membaca Al Qur’an dan juga membaca terjemahannya walaupun itu hanya satu ayat saja. Ia sangat senang sekali Ibunya membelikannya Qur’an beserta terjemahannya saat ia berulang tahun bulan yang lalu. Hari ini Amir baru saja membaca QS.2:120 dan melihat terjemahannya: “Dan tidak akan ridha selamanya Yahudi dan Nashara sampai kalian mengikuti millah mereka….” Ia berpikir ‘Ah, teman-temanku yang Nasrani semuanya baik padaku’. ‘Masa kita harus berburuk sangka atau apriori kepada mereka?’ Tetapi ini Allah yang berkata, Ia yang paling tahu akan sifat-sifat manusia. ‘Bagaimana ini, apakah aku harus menjauhi mereka dan tidak usah berteman dengan mereka?’

Memasuki era globalisasi ini, dunia semakin terasa kecil dengan perkembangan teknologi informasi. Semua informasi terasa tak terbendung. Orang dapat mengetahui apa saja yang diinginkannya di negara manapun. Teknologi internet memungkinkan hal tersebut. Tetapi apakah semua informasi ini benar atau baik.

· Bagaimana pengaruh internet terhadap generasi muda?
· Bagaimana menanggulangi pengaruh negatifnya?
· Bagaimana pengaruh media massa (cetak dan elektronik) terhadap gaya hidup dan perilaku generasi muda?

REFERENSI

· Daud Rasyid, M.A, Al-Ghazwu Al-Fikri dalam sorotan Islam.
· Prof. Abdul Rahman H. Habanakah, Metode merusak akhlak dari Barat.
· Abu Ridho, Pengantar memahami Al-Ghazwu Al- Fikri
· Prof. DR. Abdulkarim Yunus Al-Khatib,dkk. Membendung Sikap Anti Islam.
· DR.Darouza, Mengungkap tentang Yahudi


Ditulis dalam Uncategorized | Bertanda: , , , | Leave a Comment »