Situs Islam: Klub Sekolah Mentoring Agama Islam

1% Perbedaan Manusia-Monyet adalah Mitos!

Posted by WD on October 9, 2008

Jumat, 20 Juli 2007

Hasil penelitian terbaru semakin menunjukkan bahwa manusi tidak mirip dengan monyet sebagaimana cenderung diyakini banyak orang. Artinya, hanya mitos

Hidayatullah.com–Hasil penelitian ilmiah terbaru semakin meruntuhkan mitos-mitos seputar teori evolusi. Salah satunya dimuat baru-baru ini di majalah ilmiah pro-evolusi kelas dunia Science, terbitan lembaga ilmiah bergengsi di dunia, American Association for the Advancement of Science, AAAS.

Science, 29 Juni 2007, jilid 316, halaman 1.836 menampilkan judul mencolok: “Relative Differences: The Myth of 1%” (Perbedaan-perbedaan Relatif: Mitos 1%). “Dilihat dari genomnya, manusia dan simpanse sangatlah mirip, tapi penelitian-penelitian menunjukkan bahwa mereka tidaklah semirip seperti yang cenderung diyakini banyak orang”, rangkum sang penulis artikel tersebut, Jon Cohen.

Akibat kurangnya pengetahuan

Di bagian News Focus, kolom biologi evolusi, laporan satu halaman itu memaparkan ulasan para pakar yang terlibat dalam penelitian tersebut. Di dalamnya dipaparkan pula kronologis mitos 1% itu, sebagaimana diulas di bawah ini.

Lebih dari 30 tahun silam, pakar biologi evolusi Allan Wilson dari Universitas California dan mahasiswanya Mary-Claire King membuat pernyataan meyakinkan yang mendukung adanya perbedaan genetis 1% simpanse-manusia. Temuan ini dimuat Science tahun 1975.

Namun perbedaan 1% ini ternyata lebih dikarenakan kurangnya pengetahuan di bidang genetika masa itu. Meskipun begitu, 99% persamaan genetis manusia-simpanse diyakini kuat para evolusionis kala itu. Namun, seperti kata Pascal Gagneux, pakar zoologi Universitas California San Diego, keyakinan keliru itu malah menjadi penghalang untuk memahami perbedaan yang sesungguhnya lebih besar antara simpanse dan manusia.

Beberapa puluh tahun kemudian, perangkat penelitian pun semakin canggih serta data genetik semakin berlimpah pula. Kini para peneliti memahami bahwa potongan-potongan DNA `hilang`, gen-gen `tambahan`, sambungan-sambungan `terubah` pada jaringan gen, dan rancang-bangun rumit kromosom semakin mempersulit penentuan kadar “ke-manusia-an” dan “ke-monyet-an”.

Apa dampak fakta-fakta ilmiah baru tersebut? Pascal Gagneux menjawab: “Tidak ada satu-satunya cara untuk menampilkan jarak genetis antara dua makhluk hidup rumit”.

Dari 1% menjadi 17.4%

Keyakinan perbedaan 1% simpanse-manusia pun tumbang beberapa dasawarsa kemudian. Majalah Science, 2 September 2005, halaman 1.468, melaporkan temuan tim Chimpanzee Sequencing and Analysis Consortium: DNA yang telah tersisipkan atau terhapuskan di dalam genome saja ternyata sudah beda 3%.

Setahun kemudian, tim yang dipimpin Matthew Hahn, yang melakukan genomika komputasi di Universitas Indiana, Bloomington, melaporkan temuannya di jurnal PLoS ONE edisi Desember 2006. Jumlah salinan gen manusia dan simpanse memiliki ketidaksamaan 6,4%.

Penelitian lain pun dilakukan dengan menghitung dan menganalisa perbedaan genetis otak manusia dan simpanse. Daniel Geschwind, pakar syaraf di UC Los Angeles (UCLA) dan timnya membandingkan mana dari 4000 gen yang terekspresikan secara bersamaan pada daerah-daerah tertentu di otak.

Dengan data ini, mereka membuat peta jaringan gen masing-masing spesies. Hasilnya, pada jaringan ini, sambungan tertentu pada otak manusia ternyata tidak dijumpai pada simpanse. Di bagian korteks, misalnya, 17,4% sambungan ditemukan hanya pada manusia, tulis Daniel Geschwind dalam Proceedings of the National Academy of Sciences, 21 November 2006.

Ditentukan faktor politik, sosial dan budaya

Bagian akhir artikel itu memuat tiga kalimat yang sangat mengejutkan sebagaimana dikutip di bawah ini:

“Dapatkah para peneliti mengumpulkan keseluruhan dari apa yang telah diketahui dan mendapatkan perbedaan prosentase pasti antara manusia dan simpanse? “Saya tidak berpendapat ada cara menghitung angka,” kata pakar genetika Svante Pääbo, anggota konsorsium simpanse yang bermarkas di Institut Max Planck untuk Antropologi Evolusi, di Leipzig, Jerman. “Pada akhirnya, adalah hal bersifat politis, sosial dan budaya tentang bagaimana kita melihat perbedaan-perbedaan kita.”

Demikianlah sebagian gambaran terkini tentang teori evolusi, yang lebih menampakkan kebingungan yang semakin parah dengan semakin majunya ilmu pengetahuan. Sisi politik, sosial dan budayalah, dan bukan data ilmiah, yang paling berperan memunculkan gambaran persamaan atau perbedaan antara manusia dan monyet. [sc/cr/www.hidayatullah.com]

About these ads

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 26 other followers

%d bloggers like this: