Situs Islam: Klub Sekolah Mentoring Agama Islam

Arsip untuk Desember, 2008

Perusahaan Asuransi “Islam” Pertama di Inggris

Ditulis oleh Ruswandi di/pada Desember 5, 2008

dakwatuna.com - Di tengah penerimaan putra-putra minoritas muslim di negara-negara Barat, di bukalah perusahaan asuransi “Islam” pertama di Inggris pada Bulan April lalu. Perusahaan yang kegiatannya sesuai dengan syariat Islam.

Langkah ini diumukan setelah Kementerian Keuangan Inggris bertekad untuk membuka kegiatan keuangan yang berbasiskan pada system Islam, dengan target bertumbuhnya investasi dan kemajuan ekonomi di Inggris. Sekaligus keinginannya agar Inggris menjadi Negara Eropa pertama yang membuka aktifitas keuangan berupa asuransi yang di motori oleh perusahaan-perusahan keuangan besar, dengan praktek yang sesuai dengan Syariat Islam, yang mengharamkan riba (fawaid bankiyah).

Sebelumnya di Inggris telah didirikan bank-bank dan perusahaan-perusahaan yang dalam praktek aktivitasnya sesuai dengan syariat Islam, guna mewujudkan stabilitas ekonomi. Padahal di waktu yang bersamaan, Inggris masih belum menerima dipraktekkannya sebagian syariat Islam berkaitan dengan urusan (kehidupan) personal, seperti nikah dan cerai cara Islam.

Mengakomodir Aspirasi Minoritas

Surat kabar Inggris “Time” menurunkan laporannya yang bersumber dari Direktur Eksekutif Perusahaan Baru yang bernama “Perusahaan Asuransi Islam Inggris” di mana akan meluncurkan program Layanan Asuransi Baru, ia berkata, “Perusahaan ini dirintis adalah mutlak untuk pelayanan asuransi di Inggris yang bekerja sesuai dengan syariat Islam, sekaligus membangun unit baru yang berperan signifikan bagi pasar asuransi di Inggris.”

Ia menegaskan, bahwa layanan ini merupakan wujud usaha untuk mengakomodir kebutuhan sekitar dua (2) juta muslim, sebagai minoritas di Inggris.

Ia juga menambahkan bahwa, “Layanan baru ini sebagai alternatif pengganti bentuk asuransi konvensional yang berseberangan dengan syariat Islam.”

Perdebatan Seputar Syariah

Di Inggris sendiri terjadi perdebatan sengit pada bulan Pebruari lalu, setelah Dr. Rown Williams, seorang Uskup Besar Gereja Inggris melontarkan gagasannya berupa dibolehkannya sebagian kegiatan yang mengakomodir syariat Islam di Inggris, terutama di aspek “ahwal syakhshiyah” urusan pribadi, seperti nikah dan cerai. Ia menegaskan bahwa urusan seperti ini merupakan usaha yang tidak bisa dihindarkan lagi.

Lontaran ini langusng mendapat pertentangan dari pemerintah Inggris, dengan menyatakan bahwa gagasan uskup itu hanya ide pribadi, bukan ide dari institusi Keuskupan Gereja.

Pada waktu yang sama, gagasan uskup di atas mendapat dukungan dan sambutan dari lembaga-lembaga dan pemimpin-pemimpin Islam.

Praktek ekonomi dan keuangan di Inggris yang sesuai dengan syariat Islam tidak hanya asuransi Islam. Jauh-jauh sebelumnya, telah didirikan bank-bank Islam dan bentuk-bentuk transaksi-transaksi keuangan berbasiskan syariat Islam.

Semenjak didirikan, praktek bidang keuangan Islam telah membuktikan keberhasilannya dalam menjalankan usahanya, dan berhasil menyedot nasabah dan investor di seluruh dunia.

Lebih dari tiga ratus (300) bank dan perusahaan-perusahaan Islam di seluruh dunia. Omsetnya telah mencapai tiga ratus (300) milyar dolar, dan dipridiksi pada Tahun 2013 akan mencapai tiga (3) trilyun dolar.

Semoga ragam kegiatan ekonomi umat yang berbasiskan syariat Islam di seluruh dunia menjadi langkah-langkah untuk menciptakan pasar alternative ekonomi dunia dan menjadi solusi pilihan bagi praktek ekonomi kapitalis yang sudah mulai sempoyongan. Selamat bank-bank dan perusahaan-perusahaan Islam dan selamat bagi putra-putri Islam yang mendidikasikan diri untuk kemajuan ekonomi Umat. Allahu Akbar Walillahil Hamd (io/ut)

http://www.dakwatuna.com/2008/perusahaan-asuransi-islam-pertama-di-inggris/

Ditulis dalam Mentor Islam, Wawasan | Bertanda: , | 1 Komentar »

Spanyol Menanti Bank “Halal”

Ditulis oleh Ruswandi di/pada Desember 5, 2008

dakwatuna.com – Sebuah Lembaga Resmi Spanyol bernama “Halal” telah meneken kerjasama dengan Lembaga Keuangan Spanyol dan Eropa guna mendirikan bank Islami, di mana tidak ada praktek riba dalam transaksinya sebagaimana yang dilarang dalam agama Islam.

Manager Lembaga “Halal” mengatakan, Pemerintah Spanyol berusaha mengontrol produk dan aktivitas bank ini agar sesuai dengan nilai-nilai Islam. Kesepakan ini akan terjalin dalam waktu dekat.

Disebutkan dalam keterangan tertulis Lembaga “Halal” – Lembaga yang berafiliasi ke Universitas Islam Spanyol yang sangat berperan dan berpengaruh dikalangan umat Islam di sana-, “Bahwa penandatangan kesepakatan kerjasama bank ini sesuai dengan kaidah Islam, terjadi pada saat bertambahnya jumlah umat Islam di Spanyol dalam jumlah yang sangat besar. Di mana mereka merindukan bisa berinteraski muamalat lewat kaidah-kaidah yang tidak bertentangan dengan keyakinan agama mereka.”

Direktur lembaga “Halal” Izabela Romario dalam pernyatannya yang dilansir surat kabar Spanyol mengatakan “Bahwa efektifitas kerjasama antara lembaga “Halal” dengan bank di Spanyol (Duta Bank) dan (Kurs Bank) paling tidak pada musim panas yang akan datang.”

Menurut pengakuan Romario, dibukanya bank Islami ini adalah mengikuti langkah dan pengalaman di Inggris yang mendirikan bank Islami pertama di Eropa pada tahun 2002, di mana angka ativitas muamalatnya naik sangat signifikan.

Romario menegaskan, “Bahwa bank-bank Islami tidak dibolehkan mengambil riba, tapi menganut sistem bagi hasil, sebagaimana juga tidak diperkenankan memutar dana-dananya untuk kegiatan yang berkaitan dengan perjudian, dan aktivitas yang ada peluang gharar atau tidak jelas dan ada unsur tipu muslihat. Dengan kata lain bank-bank itu harus sesuai dengan kaidah-kaidah syariat Islam.”

Ia menambahkan ,“Bahwa harga minyak di pasaran dunia, akan mempengaruhi secara alamiyah harga dan mengangkat nilai aktivitas keuangan di bank-bank Barat, namun harus sesuia dengan syari’at Islam, yang mengharamkan riba dengan segala bentuknya.”

Lebih dari satu setengah juta muslim imigran berdiam diri di Spanyol, dan ribuan muslim asli Spayol. Dan transaksi di bank Islam makin bertambah dengan bertambahnya jumlah pemeluk Islam di sana. Mereka mendirikan beragam kegiatan-kegiatan perekonomian.

Data menunjukkan bahwa pasar dan peluang bank Islami di Uni Eropa sangatlah potensial, karena jumlah penduduk muslim di Uni Eropa secara keseluruhan sekarang ini lebih dari lima belas (15) juta jiwa. Terdiri dari muslim imigran dan muslim pribumi.

Subhanallah, boleh jadi Negara-Negara Barat akan futuh atau menjadi lebih Islami dengan tangan-tangan anak-anak bangsanya, sehingga tidak perlu ada penaklukan dengan senjata, bi idznillah. Allahu Akbar wa Lillahil Hamd. (in/ut)

http://www.dakwatuna.com/2008/spanyol-menanti-bank-halal/

Ditulis dalam Wawasan | Bertanda: , | Leave a Comment »

Hong Kong Menyelami Perbankan Islam

Ditulis oleh Ruswandi di/pada Desember 5, 2008

dakwatuna.com – Hongkong, meskipun gonjang-ganjing finansial menghantam pasar dunia, namun Hongkong tetap akan mengeluarkan produk-produk keuangan Islam, sebagai langkah awal dan penting, agar tetap menjadi kiblat industri keuangan Islam di Asia.

Dalam rilis yang disampaikan di perwakilan berita Barnama, Wakil Ketua Lembaga Keuangan Hongkong, Eddie Yue mengatakan:

“Tidak ada keraguan sedikit pun dalam langkah kami untuk menerbitkan produk industri keuangan Islam di Hong Kong. Prioritas kami adalah menancapkan kaki kuat dalam membentuk pasar produk-produk Islam.”

Ia menjelaskan target dari program ini adalah agar Hong Kong memberi kesempatan bagi para investor Timur Tengah dan Asia yang peduli dengan industri keuangan Islam.

Yue menjelaskan bahwa dengan masuknya industri keuangan Islam merupakan produk baru dalam sistem keuangan Hong Kong, dengan demikian akan menambah prestasi Hong Kong dalam hal pelayanan keuangan di Asia.

Singapura Mengikuti Jejak Berikutnya

Yue mengatakan bahwa dalam waktu dekat Hongkong akan bekerjasama dengan negara tetangga, Singapura dalam hal penerbitan fasilitas sukuk, tahun depan. Gunanya untuk menguatkan pertumbuhan industri keuangan Islam.

Direktur Utama Pusat Bank Singapura mengatakan: “Bahwa sejumlah lembaga-lembaga keuangan menunjukkan perhatiannya dalam mengatur fasilitas sukuk Islam.”

Sukuk Islam sendiri sesuai dengan syariah Islam yang melarang menarik riba atau manfaat tambahan, dan berdasarkan atas pembagian keuntungan. Lembaga-lembaga yang konsen dalam menggunakan produk-produk Islam, selalu memberikan sejumlah laba atau uang untuk investor dari keuntungan proyek-proyek perdagangan, sebagai ganti dari riba.

Sebagaimana penerbitan fasilitas sukuk Islam juga tidak berinvestasi dalam kegiatan-kegiatan yang diharamkan, seperti terkait alkohol, perjudian, bisnnis persenjataan, tembakau, daging babi, dan materi-materi pronografi.

Persaingan

Pengamat ekonomi melihat bahwa kesuksesan Hongkong bisa dilihat dari kiprah dan kiblatnya bagi sistem keuangan di Asia, meskipun sebagai pemain baru. Dan dengan masuknya sistem industri keuangan Islam, akan menambah menarik para investor.

Para pengamat itu mengingatkan bahwa Hongkong dan Singapura akan menghadapi persaingan kuat dari negara tetangganya, Malaysia sebagai pusat keuangan dan perbankan Islam di Asia.

Industri keuangan Islam, merupakan salah satu produk keuangan dunia yang berkembang sangat pesat, karena nilai investasinya mampu melebihi 1 trilyun dollar.

Pengamat ekonomi menegaskann bahwa penerbitan fasilitas sukuk Islam mampu menarik jumlah besar investor dari berbagai belahan dunia, yang menjadikan beberapa negara membuka produk Islam ini.

Sebagaimana dalam survai terbaru, bahwa pembelian dan pengeluaran fasilitas sukuk Islam tidak hanya khusus bagi investor dunia Islam, bahkan Eropa dan Amerika Serikat tertarik untuk mengembangkan produk-produk Islami ini. (io/ut)

http://www.dakwatuna.com/2008/hong-kong-menyelami-perbankan-islam/

Ditulis dalam Suplemen, Wawasan | Bertanda: , | Leave a Comment »

Untuk Siapa Kita Berjuang?

Ditulis oleh Ruswandi di/pada Desember 5, 2008

Oleh: Iman Santoso, Lc

Dari Abdullah Bin Zaid, bahwa Rasulullah saw., saat menaklukkan Hunain, membagi-bagikan ganimah (harta pampasan perang). Beliau memberi orang-orang yang hatinya sedang dijinakkan (muallafatu qulubuhum). Lalu sampai (berita) kepada beliau bahwa orang-orang Anshar pun ingin memperoleh apa yang diperoleh orang lain. Maka bangkitlah Rasulullah saw. berkhutbah seraya memuji dan menyanjung Allah lalu mengatakan, “Wahai segenap orang Anshar, bukankah dahulu aku menemukan kalian dalam keadaan tersesat lalu Allah memberi petunjuk kepada kalian dengan perantaraanku; kalian papa lalu Allah memberi kalian kecukupan dengan perantaraanku; kalian terpecah-belah lalu Allah mempersatukan kalian dengan perantaraanku?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nyalah yang paling banyak jasanya.” (Shahih Muslim juz II: 738)

Kemenangan yang diraih dalam perjuangan dapat menggoda sebagian orang untuk mengklaim –baik secara eksplisit maupun implisit– bahwa dirinyalah yang paling berjasa untuk kemenangan itu. Atau, kalaupun bukan merasa yang paling berjasa, paling tidak mengklaim bahwa dirinya berada dalam jajaran orang-orang berjasa. Dan karenanya, jama’ah dakwah diuntungkan dan berhutang jasa terhadap dirinya. Dalam perasaannya, wajar –bahkan ada yang menganggap harus– bila jam’ah dakwah memberikan kompensasi-kompensasi atas perjuangannya itu.

Tampaknya perasaan semacam itu manusiawi. Buktinya hal itu pernah pula terjadi pada masyarakat Islam terbaik yakni generasi sahabat Rasulullah saw. Hadits yang tertulis di atas adalah bagian dari nasihat yang disampaikan Rasulullah saw. kepada kaum Anshar. Secara lebih lengkap, Ibnu Hisyam dalam kitab sirahnya mencatat sebagai berikut:

Berawal dari cara Rasulullah saw. membagi-bagikan ganimah (harta rampasan perang) Hunain. Beliau membagi justru kepada orang-orang yang baru masuk Islam pada saat penaklukan Makkah (Fathu Makkah), yang notabene belum banyak perngorbanannya. Bahkan pada perang Hunain itu justru merekalah yang pertama lari tunggang-langgang saat mendapat gempuran awal dari musuh. Sedangkan orang-orang yang sudah sejak awal turut berjuang dan malang-melintang dalam kancah jihad, kaum Anshar, tidak mendapatkan sedikit pun dari ganimah itu. Sampai-sampai seseorang dari kalangan Anshar berkata kepada sesama mereka, “Sekarang Rasulullah saw. sudah bertemu dengan kaumnya.”

Desas-desus itu akhirnya sampai kepada Rasulullah saw. Beliau kemudian meminta pimpinan mereka, Sa’ad Bin Ubadah untuk mengumpulkan seluruh kaum Anshar itu di satu tempat. Setelah berkumpul, Rasulullah saw. datang untuk menasihati mereka. “Apa desas-desus yang berkembang di tengah-tengah kalian? Apa perasaan-perasaan yang ada di hati kalian terhadapku?” kata Rasulullah membuka khutbah, setelah bertahmid dan menyanjung Allah swt. “Bukankah aku datang kepada kalian dalam keadaan kalian tersesat lalu Allah memberi kalian petunjuk? Kalian miskin lalu Allah memberi kalian kecukupan? Kalian bermusuhan lalu Allah memadukan hati kalian?” Mereka mengatakan, “Benar, Allah dan Rasul-Nyalah yang paling berjasa dan paling utama.” Rasulullah saw. melanjutkan, “Wahai kaum Anshar, mengapa kalian tidak menjawabku?” Mereka menjawab, “Ya Rasulullah, dengan apa kami menjawab engkau? Allah dan Rasul-Nyalah yang paling berjasa dan paling utama.” Rasulullah saw. mengatakan, “Demi Allah, kalau kalian mau pasti kalian mengatakan –dan kalian pasti berkata jujur dan dapat dipercaya: ‘Engkau datang kepada kami, wahai Rasulullah, dalam keadaan didustakan lalu kami mempercayai engkau. Engkau datang dalam keadaan dihinakan lalu kami membela engkau. Engkau datang kepada kami dalam keadaan terusir lalu kami melindungi engkau. Engkau datang kepada kami dalam keadaan sengsara lalu kami membantu engkau’. Wahai kaum Anshar, apakah hati kalian lebih mencintai kemilau dunia yang dengannya aku menjinakkan hati sebagian orang agar teguh dalam Islam padahal aku mengandalkan kalian pada keislaman kalian?” Dan pada akhirnya kaum Anshar menyadari kekeliruan mereka dalam memposisikan diri mereka dan memandang Rasulullah saw. Mereka menangis sejadi-jadinya hingga janggut-janggut mereka basah dengan air mata seraya mengatakan, “Kami puas dengan Rasulullah saw. sebagai bagian kami.”

Rasulullah saw. mengingatkan kepada kita bahwa manakala kita mendapat hidayah Allah swt. untuk masuk dalam barisan Islam, menjadi prajurit Allah, lalu melakukan perjuangan dan pengorbanan untuk Islam, maka sesungguhnya itu bukanlah jasa kita untuk perjuangan Islam. Melainkan justru jasa dan karunia Allah kepada kita sekalian. Tanpa hidayah Allah itu kita hanya akan menjadi manusia dengan kualitas benda mati semacam kayu (khusyubum-musannadah), bahkan bagaikan binatang ternak (kal-an’am). Dan tanpa terlibat dalam perjuangan, kita hanya akan menjadi orang-orang yang tidak punya apa pun untuk menjawab pertanyaan Allah swt. saat kita menghadap-Nya: apa yang telah kau lakukan di dunia?

Sungguh, perjuangan kita untuk menegakkan Islam di muka bumi ini sama sekali bukan jasa untuk Allah swt. Karena Dia, tanpa bantuan manusia, mampu menegakkan Islam dengan tangan-Nya sendiri. Dan Allah tidak mendapat keuntungan sedikit pun dari ketaatan manusia. Sebaliknya Dia juga tidak rugi sedikit pun bila seluruh manusia ingkar pada-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak membutuhkan) sekalian alam. Dan firman-Nya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dia-lah Maha Pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (Adz-Dzariyaat: 56-58)

Bukan pula perjuangan kita untuk membela dan menguntungkan Rasulullah saw. Karena, pertama kita sudah jauh dari masa hidup Rasulullah saw. Dan kedua, para sahabat yang nyata-nyata terlibat dalam perjuangan dan pengorbanan bersama Rasulullah saw. saja pun hakikatnya bukan membela Rasulullah saw. Karena tanpa bantuan kaum Muslimin pun Rasulullah saw. sudah nyata-nyata dibela oleh Allah swt. Kepada para sahabat yang habis-habisan membela dan berjuang untuk Islam bersama Rasulullah saw. itu Allah swt. berfirman: “Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad), maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Makkah) mengeluarkannya (dari Makkah) sedang dia salah seseorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah berduka cita, sesungguhya Allah bersama kita”. Maka Allah menurunkan ketenangan kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (At-Taubah: 40)

Lalu, apakah perjuangan dan pengorbanan kita menguntungkan Islam? Islam tanpa kita, akan ada orang lain yang memperjuangkannya. Allah swt. menegaskan hal itu dengan ayat-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dihendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Al-Maidah: 54)

Rasulullah saw. pun bersabda, “Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang menegakkan kebenaran tanpa terganggu oleh orang yang menghinakan dan menentang mereka, hingga datang kemenangan dari Allah dan mereka tetap dalam keadaan demikian.” (Muslim)

Jadi harus kita sadari, sesungguhnya segala yang kita lakukan dalam perjuangan dengan segala macam bentuk pengorbanan adalah jasa kita untuk diri kita sendiri. Untuk diri kita saat menghadap Allah swt. Sebab, setiap kita hanya akan memperoleh apa yang kita lakukan di dunia. “Dan seseorang tidak akan memperoleh selain dari apa yang telah dia usahakan.” Iman, hijrah, jihad dengan harta dan jiwa, itulah yang akan menghantarkan kita menjadi orang yang sukses sejati, sebagaimana yang Allah jelaskan: “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapatkan kemenangan.” (At-Taubah: 20). Allahu a’lam.

http://www.dakwatuna.com/2007/untuk-siapa-kita-berjuang/

Ditulis dalam Mentor Islam | Bertanda: , , | Leave a Comment »