Situs Islam: Klub Sekolah Mentoring Agama Islam

Mengatasi Kecanduan Game

Posted by WD on August 24, 2010

Bagaimana cara mengelola anak agar tidak kecanduan game? Ada yang mengajukan pertanyaan itu melalui kotak pesan (cbox) rumah ini.

Kebetulan kami sedang menjalani proses ini bersama Abby (om kecil Yudhis) yang “dititipkan” kepada kami.

GameBiasanya, kami tak pernah menghadapi masalah dengan game karena sejak anak-anak masih kecil (Yudhis & Tata), kami memiliki aturan yang jelas mengenai game. Tak ada game gadget di rumah (PS, Nintendo, Game Boy, dan sejenisnya). Game dimainkan di komputer dan berbagi dengan kami. Dan kami yang mengatur jadwal kapan anak-anak bisa main game. Anak-anak boleh usul atau minta main game, tetapi keputusan akhir ada di tangan kami. Begitulah rule yang selama ini kami jalankan dan membuat anak-anak relatif bisa mengontrol, kapan bermain dan berhenti main game.

Sekarang, ada Abby yang pegangannya setiap saat adalah Game Boy. Hampir setiap waktu dia main game boy. Kalau tidak main game boy, dia main PS atau game di handphone Mamanya. Game boy sendiri seakan sudah menjadi baby sitter baginya.

Karena kami sekarang tinggal serumah, Mamanya minta kami membantu menangani Abby.

***

Dari proses interaksi selama beberapa bulan ini, kami dapat merasakan efek buruk pada anak yang terlalu banyak main game, yaitu lemahnya konsentrasi. Anak kurang fokus dan kehilangan inisiatif. Minat anak pada hal lain tak terlihat karena dia hanya tertarik dengan game.

Segala sesuatu yang diperintahkan kepadanya memang dikerjakan. Tapi semua itu hanya dilakukan secara pasif, tanpa hati dan kesungguhan. Yang penting tugas itu segera selesai dan bisa main game lagi. Game adalah kegiatan utama dan yang lain di luar game dianggap sebagai gangguan (distraction)

***

Ada beberapa hal yang berusaha kami bangun dan usahakan untuk menangani masalah kecanduan game ini. Intinya adalah membangun aturan dan menegakkannya, serta mengalihkan energinya ke hal-hal lain.

Yang pertama kami meminta komitmen dari keluarganya; semua harus sepakat kecanduan game itu adalah problem dan harus ditangani. Kami minta komitmen dan kerjasama khusus dengan Mama dan kakaknya (yang didengarkan dan ditakutinya).

Seluruh alat permainan harus terlihat dan berada dalam ruang kontrol. PS yang biasanya ada di kamar atas (yang membuat nyaman sebagai tempat bersembunyi) dipindahkan ke ruang keluarga dan hanya boleh dimainkan atas persetujuan kami. Game boy ditarik dan menjadi milik Mama yang hanya boleh dimainkan atas izin Mama. Pada saat bersamaan, kami juga membuat pedoman bahwa kami lebih suka jika game yang dimainkan bukan permainan kekerasan.

Pemindahan alat permainan itu cukup efektif untuk mengontrol waktu main game. Walaupun pada awalnya ada resistensi karena adanya kontrol atas game “miliknya”, tetapi kami bersikeras dan tanpa kompromi. PS hanya boleh dimainkan setelah dia melakukan prestasi tertentu, dengan waktu permainan yang dibatasi (maksimal 1 jam).

Untuk menggantikan kegiatan main PS, kami meminta dia melakukan kegiatan-kegiatan lain; misalnya menggambar dan juga main bersama Yudhis. Setelah berjalan beberapa bulan, ketergantungan terhadap PS relatif bisa teratasi. Saat ini, PS relatif sudah jarang disentuh. Dia sudah mulai melakukan dua kegiatan dasar relatif rutin, yaitu membaca Koran Berani (membaca mengerti) dan menggambar. Tetapi, konsentrasinya masih pendek dan menurut kami dia masih bisa lebih dioptimalkan lagi.

***

Tantangan berikutnya adalah memanage handy gadget seperti Game Boy, Nintendo DS, dan game di HP. Walaupun alat-alat itu dipegang Mamanya, tetapi Mamanya yang sedang sakit juga menggunakan game itu sebagai teman pengalih rasa sakit. Dan Abby pun protes mengapa Mamanya boleh main game seharian sementara dia tidak boleh. Tak mudah untuk memasukkan logika bahwa anak-anak harus belajar dan beraktivitas untuk menyiapkan masa depannya. Jadinya, kompromi itu masih lumayan besar.

Yang terkadang agak mempersulit prosesnya, bahasa di keluarga Abby adalah hadiah; misalnya Papanya bisa tiba-tiba membelikan CD game begitu saja. Padahal, buat kami, game itu adalah “kartu truf”. Kami menggunakannya sebagai carrot sekaligus stick untuk mengelola kegiatannya agar lebih produktif.

***

Kami sendiri belum selesai. Kami masih terus berproses dan terus berusaha memastikan bahwa game adalah alat, bukan kegiatan utama yang menjadi candu dan mengganggu proses produktif. Kalau Abby bisa sangat tertarik pada game, kami berharap bisa membantunya agar suatu saat dia bisa menemukan sebuah kegiatan produkti yang ditekuninya seperti passion saat main game. Jika kesenangannya main game memicunya untuk menjadi game maker, tentu kami akan sepenuh hati mendukungnya.

Kembali soal mengatasi kecanduan game, intinya bagi kami adalah membuat rule dan menegakkannya dengan konsiten; rule tentang siapa pemilik alat (adalah kita, bukan dia); dan kapan main game. Juga, membantu anak menemukan kegiatan lain yang tak kalah menyenangkan dibandingkan main game.

Dan itu semua, perlu kesepakatan keluarga, juga keterlibatan bersama anak. Kemarahan dan omelan saja tak banyak membantu menyelesaikan masalah ini.

Sumber: http://www.sumardiono.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1751&Itemid=40

About these ads

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: