Situs Islam: Klub Sekolah Mentoring Agama Islam

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘iman’

Nikmat Iman

Ditulis oleh Ruswandi di/pada Agustus 5, 2008

TUJUAN

· Menumbuhkan keyakinan bahwa iman merupakan fitrah manusia
· Mengetahui bahwa iman merupakan nikmat terbesar dari Allah
· Mengetahui cara mensyukuri nikmat dari Allah

RINCIAN BAHASAN

Iman sebagai fitrah manusia
* Semua manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Sesuai dengan hadits Nabi : ” Semua bayi terlahir dalam keadaan fitrah, orang tuanyalah yang menjadikan dia yahudi, nasrani atau majusi.” (HR. Muslim)
* Seluruh manusia baik yang kafir atau yang muslim, semenjak berada dalam rahim ibunya, yaitu ketika Allah hendak memasukkan roh ke dalam jiwanya telah memberitahukan bahwa Allah SWT adalah Rabb mereka (QS.7 : 172) sehingga secara fitrah manusia akan percaya akan adanya Allah (tauhid Rubbubiyah) (QS.10 : 31,39 : 3)
* Persaksian Rubbubiyah di alam ruh harus dilanjutkan dengan persaksian Uluhiyyah dan risalah di alam dunia sebagai konsekuensinya (QS.30 : 30, 22 : 78, 2 : 21). Tauhid Uluhiyyah adalah pengesaan Allah dalam peribadatan, kepatuhan, kecintaan, ketakutan dan ketaatan secara mutlak (QS.21 : 21). Sedangkan Tauhid Risalah berittiba’ (mengikuti) sunah-sunah Rasulullah SAW, yaitu mengerjakan apa yang beliau perintahkan dan menehan diri dari apa yang dilarangnya (QS.21 : 37, 33 : 36)

Nikmat Iman
* Allah memberikan nikmat kepada seluruh makhluknya. Manusia tidak akan mampu menghitung nikmat yang telah Allah berikan kepadanya (QS. 14 : 34)
* Beberapa nikmat dari Allah yang diberikan kepada manusia :

1. Nikmat sebagai makhluk (QS.76 : 1-4)
2. Nikmat sebagai manusia (QS.95 : 4)
3. Nikmat sebagai khalifah (QS.2 : 30, 14 : 32-34)
4. Nikmat sebagai muslim (QS.5 : 3, 49 :17), merupakan nikmat terbesar dari Allah

* Manusia harus bersyukur terhadap nikmat yang telahAllah berikan. Allah memberikan anggota tubuh pada manusia adalah untuk disyukuri (QS.16 : 78). Apabila kufurnikmat maka Allah akan membalas dengan azab-Nya (QS.14 : 7, 31 : 31)
* Cara mensyukur nikmat Allah antara lain dengan :

1. Mengucapkan syukur (dengan hati dan lisan)
2. Menjaga dan memelihara nikmat yang diberikan
3. Melakukan perbuatan yang sesuai dengan keinginan pemberi nikmat

DISKUSI
Kita ketahui bahwa semua manusia ketika dalam rahim ibunya telah bersaksi kepada Allah bahwa hanya Dia-lah Rabb manusia, tapi mengapa banyak manusia yang tidak menyadarinya ?

REFERENSI

· Royyad Al Haqil, Mensyukuri Nikmat Allah, GIP

Ditulis dalam Senior | Bertanda: , , | Leave a Comment »

Mentoring: Nikmat Iman

Ditulis oleh Ruswandi di/pada Juli 14, 2008

14. Nikmat Iman

TUJUAN
· Menumbuhkan keyakinan bahwa iman merupakan fitrah manusia

· Mengetahui bahwa iman merupakan nikmat terbesar dari Allah

· Mengetahui cara mensyukuri nikmat dari Allah

RINCIAN BAHASAN

Iman sebagai fitrah manusia
* Semua manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Sesuai dengan hadits Nabi : ” Semua bayi terlahir dalam keadaan fitrah, orang tuanyalah yang menjadikan dia yahudi, nasrani atau majusi.” (HR. Muslim)
* Seluruh manusia baik yang kafir atau yang muslim, semenjak berada dalam rahim ibunya, yaitu ketika Allah hendak memasukkan roh ke dalam jiwanya telah memberitahukan bahwa Allah SWT adalah Rabb mereka (QS.7 : 172) sehingga secara fitrah manusia akan percaya akan adanya Allah (tauhid Rubbubiyah) (QS.10 : 31,39 : 3)
* Persaksian Rubbubiyah di alam ruh harus dilanjutkan dengan persaksian Uluhiyyah dan risalah di alam dunia sebagai konsekuensinya (QS.30 : 30, 22 : 78, 2 : 21). Tauhid Uluhiyyah adalah pengesaan Allah dalam peribadatan, kepatuhan, kecintaan, ketakutan dan ketaatan secara mutlak (QS.21 : 21). Sedangkan Tauhid Risalah berittiba’ (mengikuti) sunah-sunah Rasulullah SAW, yaitu mengerjakan apa yang beliau perintahkan dan menehan diri dari apa yang dilarangnya (QS.21 : 37, 33 : 36)

Nikmat Iman
* Allah memberikan nikmat kepada seluruh makhluknya. Manusia tidak akan mampu menghitung nikmat yang telah Allah berikan kepadanya (QS. 14 : 34)
* Beberapa nikmat dari Allah yang diberikan kepada manusia :
1. Nikmat sebagai makhluk (QS.76 : 1-4)

2. Nikmat sebagai manusia (QS.95 : 4)

3. Nikmat sebagai khalifah (QS.2 : 30, 14 : 32-34)

4. Nikmat sebagai muslim (QS.5 : 3, 49 :17), merupakan nikmat terbesar dari Allah

* Manusia harus bersyukur terhadap nikmat yang telahAllah berikan. Allah memberikan anggota tubuh pada manusia adalah untuk disyukuri (QS.16 : 78). Apabila kufurnikmat maka Allah akan membalas dengan azab-Nya (QS.14 : 7, 31 : 31)
* Cara mensyukur nikmat Allah antara lain dengan :
1. Mengucapkan syukur (dengan hati dan lisan)

2. Menjaga dan memelihara nikmat yang diberikan

3. Melakukan perbuatan yang sesuai dengan keinginan pemberi nikmat

DISKUSI
Kita ketahui bahwa semua manusia ketika dalam rahim ibunya telah bersaksi kepada Allah bahwa hanya Dia-lah Rabb manusia, tapi mengapa banyak manusia yang tidak menyadarinya ?

REFERENSI
· Royyad Al Haqil, Mensyukuri Nikmat Allah, GIP

Ditulis dalam Senior | Bertanda: , , | Leave a Comment »

Al Iman

Ditulis oleh Ruswandi di/pada Juli 7, 2008

RINCIAN BAHASAN
Konsep-konsep tentang Iman, Islam dan Ihsan mungkin sudah pernah kita pelajari. Namun ternyata gambaran yang kita miliki selama ini belum cukup valid (shohih) dan integral (syamiil), karena kita melihat Iman, Islam dan Ihsan secara sektoral dan terpisah satu sama lain. Padahal ketiga konsep tersebut adalah merupakan satu bangunan yang dapat disebut sebagai RUMAH KITA, yang secara global terdiri dari tiga bagian utama, yaitu :
1. RUKUN IMAN, yang berfungsi sebagai lapisan fondasinya.
2. RUKUN ISLAM, yang berfungsi sebagai tiang penyangganya.
3. IHSAN, yang berfungsi sebagai atapnya.
Artinya : tegaknya Islam pada diri seseorang tergantung pada kualitas pondasinya dan daya tahan Islam pada diri seseorang tergantung pada kualitas atapnya. Jadi satu sama lain saling membantu, menguatkan dan memelihara.

Hakikat Iman
Pengertian Iman menurut ahlussunah : Iman terdiri dari tiga unsur, yaitu pembenaran dengan hati, diikrarkan dengan lisan dan diamalkan dengan anggota badan, yang satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan. Jadi Iman adalah keyakinan dan sekaligus juga amal.

Rukun Iman

Rukun Iman merupakan basis konsepsional atau landasan idiil yang mendasari pemikiran, ucapan dan tindakan seorang muslim. Artinya : seorang muslim yang beriman maka pemikiran, ucapan dan tindakannya tidak akan bertentangan dengan keimanannya kepada Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Taqdir dan Kiamat. Orang yang beriman haruslah beriman kepada enam rukun iman. (Lihat QS. 2:285, 4 :136, dan Hadits. Ketika Nabi ditanya Malaikat jibril tentang Iman, maka jawab Nabi : “Hendaklah engkau beriman kepada Allah, kepada Malaikat-Nya, kepada kitab-kitab-Nya, kepada Utusan-utusan-Nya, kepada Hari Kiamat dan hendaklah engkau beriman kepada Qadar yang baik dan yang buruk” (HR. Muslim). Maka barangsiapa yang mengingkari salah satunya maka ia telah mengingkari seluruh Rukun Iman.

Adapun penjabaran dari pelaksanaan rukun iman tersebut, yaitu :

1. Iman kepada Allah SWT. Konsekuensinya yaitu : mencintai Allah SWT (QS. 2:165). Tanda-tandanya : lihat QS. 8:2. Akibatnya : ikhlash dalam menjalankan perintah-perintah-Nya.
2. Iman kepada Malaikat (QS. 50:16-18). Konsekuensinya : tidak mungkin seorang mu’min berbuat ma’siat karena selalu ditongkrongi malaikat.
3. Iman kepada Kitab-kitab (QS. 2:2, 20:1-3). Konsekuensinya : menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.
4. Iman kepada Nabi dan Rasul (QS. 33:40). Konsekuensinya : mencintai dan mengikutinya (QS. 3:31-32).
5. Iman kepada Hari Akhir (QS. 3:185). Konsekuensinya : mempersiapkan diri untuk mennghadapinya.
6. Iman kepada Takdir (QS. 22:7). Konsekuensinya : berprinsip bahwa “Janganlah kita mempersoalkan apa-apa yang Allah ingin lakukan terhadap kita, tetapi kita harus melakukan apa-apa yang Allah ingin dari kita.”

DISKUSI
Bagaimana pendapatmu jika ada orang yang sudah hafal betul rukun iman dan ia meyakininya, namun dalam kehidupan sehari-harinya tidak pernah melakukan syari’at Islam, seperti shalat, puasa dan berdo’a. Bahkan dalam kehidupan bermasyarakat pun, ia tidak berakhlak Islami. Sifatnya bakhil dan suka merugikan orang lain. Pelajaran apa yang dapat kamu ambil ?

REFERENSI

· Paket BP Nurul Fikri, Al-Iman
· DR. Muhammad Na’im, Yang Menguatkan Yang Membatalkan Iman, GIP
· Abdul Majid Al-Zanday, dkk, Al-Iman



Ditulis dalam Senior | Bertanda: | Leave a Comment »

I M A N

Ditulis oleh Ruswandi di/pada Juni 21, 2008

Karakter Iman

Ada dua hal yang perlu dipahami ketika membahas masalah keimanan. Pertama, karakter iman; kedua, karakter hati sebagai wadah bersemayamnya iman. Iman mempunyai karakter yang fluktuatif, terkadang naik dan tinggi, tetapi terkadang juga turun dan rendah.

“Iman itu bisa bertambah bisa berkurang, maka perbaharuilah imanmu dengan Laa Ilaaha Illallah” (HR Ibnu Islam)

Sedangkan hati sebagai wadahnya iman memiliki karakter terbolak balik dan tidak tetap. Hati atau kalbu berasal dari bahasa Arab, Qolbu. Qolbu sendiri berasal dari kata qolaba – yanqolibu – qolbun; yang artinya terbolak-balik. Maka Rasulullah SAW pernah bersabda:

“Ya Allah, Wahai Zat Yang Maha Membolak-balikkan, tetapkanlah hatiku di dalam dien-Mu dan di dalam ketaatan pada-Mu”

Dari kedua karakteristik di atas, iman dan hati, membuat kita tak pernah boleh yakin dan puas akan kadar keimanan kita yang kita miliki sekarang. Setidaknya tumbuh dua perasaan, harap dan cemas di dalam hati kita. Harapan agar kelak Allah mematikan kita dalam keimanan yang tinggi dan benar. Cemas dan takut kalau Allah mematikan kita dalam kondisi keimanan sedang menurun.

Hakikat Iman

“Iman adalah membenarkan di dalam hati, mengikrarkan dengan lisan dan mengamalkan rukun-rukunnya”

Iman bukanlah angan-angan. Melainkan apa yang tertanam menghunjam di dalam sanubari dan dibenarkan oleh amal perbuatan. Bukan semata-mata teori, sebagai konsumsi otak, yang sinarnya tidak sampai menembus hati dan tidak dapat menggerakkan iradah (keinginan). Iman juga bukan sesuatu yang menjejali ingatan dengan istilah-istilah seperti: robb, ilah, dien, ibadah, tauhid, thogut, dsb. Lalu merasa bangga dan hebat karena sudah menguasai artinya. Hampir semua nash Al-Quran dan Hadist selalu mengaitkan keimanan dengan amal.

“Orang-orang mukmun itu hanyalah mereka yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, kemudian mereka tak ragu sedikitpun dan mereka berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka. Mereka inilah orang-orang yang benar/jujur” (49:10)

Dari Anas bin Malik berkata Rasulullah SAW: “ Tiga golongan yang merasakan manisnya iman: (1) mencintai Allah dan rasul-Nya, melebihi dari kecintaan kepada yang lainnyta, (2) mencintai orang lain hanya karena Allah dan (3) merasa benci kembali pada kekufuran setelah diselamatkan Allah, sebagaimana ia benci jika dilemparkan ke dalam neraka” (HR Bukhari Muslim)

Imam syahid Hasan al-Banna berkata:

“Datangkan kepadaku 12 ribu orang yang benar-benar beriman, agar kutundukkan pegunungan, kubelah samudera dan lautan, dan kubuka negeri-negeri bersama mereka

Keimananlah yang menjadi motivator manusia untuk melakukan perbuatan. Baik buruknya perbuatan manusia tergantung pada baik buruknya keimanan. Kondisi iman yang buruk akan menghasilkan perbuatan yang buruk. Kondisi iman yang baik akan melahirkan perbuatan yang baik pula.

Islam adalah agama yang berintikan keimanan dan perbuatan (amal). Keimanan itu merupakan akidah dan pokok. Amal itu merupakan syariat dan cabang-cabangnya yang dianggap sebagai buah yang keluar dari keimanan serta akidah itu. Keimanan dan amal adalah akidah dan syariat, keduanya sambung menyambung, tidak dapat berpisah satu dengan yang lain. Keduanya seperti buah dengan pohonnya, seperti musabab dengan sebabnya atau seperti natijah (hasil) dengan mukadimah (pendahuluannya).

Mengapa orang yang beriman beruntung?

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman” (23:1)

Allah menjanjikan keberuntungan yang besar bagi orang-orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah.

1. Diberikan ganjaran syurga yang abadi

“Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebaikan bahwasanya mereka itu akan memperoleh surga yang dibawahnya mengalir beberapa sungai” (2:25)

2. Dilimpahkan ketenangan hati dan kebahagiaan hidup

Kebahagiaan dan ketenangan sejati tak dapat diperoleh dengan harta, tempat tinggal, pakaian ataupun perhiasan. Tetapi kebahagiaan itu diperoleh dari dalam diri sendiri dan dari perasaan iman dan taqwa kepada Allah. Karena Allah-lah yang mengaruniai kebahagiaan. Karena itu beruntunglah orang yang bertaqwa dan beriman kepada Allah.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih maka Tuhan yang Maha Pengasih akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang” (19:96)

Iman dan Kebanggaan

“Jangan kamu merasa hina dan susah, kamu adalah orang-orang yang lenih tinggi kalau sekiranya kamu benar-benar BERIMAN” (3:139)

Umat Islam akan menjadi lebih tinggi derajatnya ketika mereka beriman. Imanlah yang akan melepaskan ikatan manusia dengan hawa nafsu dan thogut. Hanya mengabdi kepada Allah SWT. Dengan beriman kita menjadi umat yang merdeka. Ingat bahwa kemerdekaan adalah bebasnya hati dari ikatan thogut dan hawa nafsu meski secara fisik diikat atau di penjara. Sebaliknya manusia akan terus terjajah selama ia masih tunduk atas hawa nafsu dan thogut meski secara fisik ia adalah seorang raja. Iman di hati menjadi kebanggaan sekaligus menjadi syarat kejayaan umat. (Jundia)

Ditulis dalam Senior | Bertanda: , | Leave a Comment »