Situs Islam: Klub Sekolah Mentoring Agama Islam

Benarkah Perbedaan Pendapat Pada Umat Muslim Adalah Rahmat ?

Posted by WD on October 6, 2008

Berkata sebagian kaum Muslimin :
“Biarkanlah keragaman pendapat yang ada di tubuh kaum Muslimin tentang agama mereka tumbuh subur dan berkembang, asalkan setiap perselisihan dibawa ke tempat yang sejuk.”

Alasan mereka didasarkan pada sebuah hadits yang selalu mereka ulang-ulang dalam setiap kesempatan, yaitu hadits: “Perbedaan pendapat pada umatku adalah rahmat”

Benarkah ungkapan ini? Benarkah Rasulullah pernah mengucapkan hadits tersebut? Apa kata Muhadditsin (Ahli Hadits) tentang hadits tersebut?.

Syaikh Al-Albani rahimahulah berkata: “Hadits tersebut tidak ada asalnya”. [Adh-Dha’ifah :II / 76-85] . Imam As-Subki berkata: “Hadits ini tidak dikenal oleh ahli hadits dan saya belum mendapatkannya baik dengan sanad shahih, dha’if (lemah), maupun maudhu (palsu).” Syaikh Ali-hasan Al-Halaby Al-Atsari berkata: “ini adalah hadits bathil dan kebohongan.” [Ushul Al-Bida’]

Dan dari sisi makna hadits ini disalahkan oleh para ulama. Al-‘Alamah Ibnu Hazm berkata dalam Al-Ahkam Fii Ushuli Ahkam (5/64) setelah menjelaskan bahwa ini bukan hadits: “Dan ini adalah perkataan yang paling rusak, sebab jika perselisihan itu adalah rahmat, maka berarti persatuan adalah adzhab. Ini tidak mungkin dikatakan oleh seorang muslim, karena tidak akan berkumpul antara persatuan dan perselisihan, rahmat dan adzhab.”

Bagaimanakah Daya Rusak Hadits Palsu Tersebut Terhadap Islam ?

1. Mengekalkan perpecahan dalam Islam

Tidak ragu lagi bahwa hadits tersebut adalah tikaman para pembawanya bagi persatuan Islam yang haqiqi. Ketika para pembawa panji-panji sunnah menyeru umat kepada persatuan Aqidah dan Manhaj (jalan/metode) yang shahih. Tiba-tiba muncul orang-orang yang mengaku mengajak kepada persatuan Islam dengan berkata: “Biarkanlah kaum muslimin dengan keyakinannya masing-masing, biarkanlah kaum muslimin dengan metodenya masing-masing dalam berjalan
menuju Allah , janganlah memaksakan perselisihan yang ada harus seragam dengan keyakinan dan pola pikir orang-orang arab padang pasir 15 abad yang lalu. Karena Rasulullah bersabda: “perselisihan pendapat pada umatku adalah rahmat.”

Alangkah berbahayanya ungkapan tersebut dan banyak lagi perkataan yang semisalnya yang mengakibatkan kaum muslimin abadi di dalam aqidah dan manhaj yang berbeda. Padahal ayat-ayat dalam Al-Qur’an melarang berselisih pendapat dalam urusan agama dan menyuruh bersatu. Seperti Firman Allah dalam surat Al-Anfal ayat 46 yang artinya; “Jangan kamu berselisih, karena kamu akan menjadi lemah dan hilang kewibawaan kamu.”

Surat Ar-Rum ayat 31-32: “Jangan kamu seperti orang-orang yang musyrik, yaitu mereka mencerai-beraikan agamanya dan bergolong-golongan. Dan setiap golongan berbangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.”

Surat Hud ayat: 118-119: “Mereka terus-menerus berselisih kecuali orang yang mendapatkan rahmat dari Tuhanmu.”

Dan kita diperintah Allah untuk bersatu dalam Aqidah dan manhaj diatas Aqidah dan Manhajnya Rasulullah dan para sahabatnya. Sebagaimana Firman Allah dalam surat Al-An’am ayat: 153 yang artinya: “Dan bahwa (yang kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.”

Dan kita diperintahkan Allah untuk merujuk bersama kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah ketika terjadi perselisihan, bukannya membiarkan perselisihan aqidah dan hal-hal yang pokok dalam agama meradang di tengah ummat dengan dalih sepotong hadist palsu. Firman-Nya dalan surat An-Nisa’ ayat 59 yang artinya : “Jika kamu berselisih pendapat maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul-Nya (Sunnah-nya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.”

2. Kaum muslimin tidak lagi menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai sandaran kebenaran dan hakim.

Syaikh Al-Albani berkata: “Diantara dampak buruk hadits ini adalah banyak kaum muslimin yang mengakui terjadinya perselisihan sengit yang terjadi diantara 4 madzab dan tidak pernah sama sekali berupaya untuk mengembalikannya kepada Al-Qu’an dan Al-Hadits.” [Adh-Dha’ifah: I/76]

Allah berfirman menceritakan Nabi-Nya Muhammad ketika mengadu kepada-Nya: “Berkatalah rasul: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini suatu yang tidak diacuhkan.” [QS. Al-Furqan:30].

Sungguh hal itu terulang kembali di zaman ini dikarenakan hadist palsu yang menggerogoti ummat.

3. Umat islam tidak lagi menjadi umat terbaik yang jaya di atas umat yang lainnya.

Ini dikarenakan hadits palsu tersebut menjadi dinding bagi seorang muslim untuk beramar ma’ruf nahi mungkar, seorang muslim tidak lagi menegur saudaranya yang berbuat salah dalam syirik, kekufuran, dan bid’ah serta maksiat disebabkan meyakini hadits palsu tersebut. Karena mereka menganggap semua itu sebagai suatu perbedaan yang hakikatnya adalah rahmat, sehingga tidak perlu untuk ber-nahi munkar. Akibatnya, predikat ummat terbaik tidak lagi disandang oleh umat Islam, karena telah meninggalkan syaratnya yakni Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar. Sebagaimana firman Allah dalam surat Ali-‘Imran ayat: 110 yang artinya: “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah .”

4. Ancaman dan kecaman yang keras dari Nabi, karena berkata dengan mengatasnamakan Rasulullah secara dusta.

Rasulullah bersabda : “Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia siapkan tempat duduknya dari api neraka” [Riwayat Bukhari-Muslim].

Hendaklah takut orang-orang yang mengada-adakan perkataan dusta atas nama Rasulullah , demikian pula orang-orang yang menyebarkan dan mendongengkan kisah-kisah palsu dan lemah yang hanya muncul dari prasangka belaka yang padahal prasangka itu adalah seburuk-buruk perkataan.

5. Meninggalkan perintah Allah

Ini adalah efek lanjutan dari hadist palsu tesebut, karena ketika seseorang mentolelir perselisihan aqidah, halal dan haram, serta segala sesuatu yang telah tegas digariskan oleh dua wahyu, maka di saat yang sama ia telah meninggalkan perintah Allah untuk menuntaskan setiap perselisihan kepada Al-Qur’an, dan As-Sunnah. Sebagaimana Allah berfiman :
“Jika kamu berselisih pendapat maka kembali-kanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul-Nya (As-Sunnah) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir, yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya” [An-Nisa:59]

6. Melemahkan kekuatan kaum Muslimin serta membuka jalan bagi orang-orang kafir untuk menghancurkan Islam dari dalam.

Syaikh Ali Hasan dalam kitabnya “ushul bida” mengisyaratkan dampak buruk hadist tersebut yang dapat melemahkan kaum muslimin dan menjatuhkan kewibawaannya, karena jelas-jelas hadist palsu tersebut menebarkan benih-benih perpecahan di tubuh kaum Muslimin, sedangkan Allah berfirman : “Jangan kamu berselisih, karena kamu akan menjadi lemah dan hilang
kewibawaan kamu.”
[Al-Anfal: 46]

Ibnu mas’ud meriwayatkan : “Rasulullah membuat satu garis dengan tangannya lalu bersabda “ini jalan Allah yang lurus”, lalu beliau membuat garis-garis dikanan kirinya, kemudian bersabda, “ini adalah jalan-jalan yang sesat tak satupun dari jalan-jalan ini kecuali didalamnya terdapat setan yang menyeru kepadanya.” Selanjutnya beliau membaca firman Allah , “dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus maka ikutilah dia janganah mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya yang demikian itu diperintahkan oleh Allah kepadamu agar kamu bertaqwa (Qs. Al-an’am153)”. (Hadits shahih riwayat Ahmad dan Nasa’i).

Maraji’:
Ushul bida’ [Syaikh Ali Hasan Ali Abdul hamid]
Sifatush shalaty An-Naby [Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani] dan
sumber-sumber lainnya

http://www.kebunhikmah.com/article-detail.php?artid=59

One Response to “Benarkah Perbedaan Pendapat Pada Umat Muslim Adalah Rahmat ?”

  1. Alasan maengapa Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi harus didukung dan segera disyahkan?

    1. Kita punya agama yang mengajarkan yang baik-baik. Pornografi dan pornoaksi sangat banyak pengaruh buruknya ketimbang manfaatnya. Misalnya dengan memandang aurat dan memperlihatkan aurat akan muncul hasrat. Hasrat bagi kaum pria cenderung dibelokan pada hal-hal kepuasan biologis. Apa manfaatnya? tidak ada! Sangat disayangkan jika anak-anak kita atau generasi muda kita yang salah jalan akibat pengaruh pengaruh pornografi dan pornoaksi yang diterimanya. Di negara Amerika / barat sendiri, sudah ada lembaga yang mengatur undang-undang ini. Sementara negara kita yang mayoritas islam, mengapa menentang Undang-Undang ini?

    2. Kita punya Anak yang harus diarahkan, mereka seperti kertas putih yang siap ditulis dengan tinta warna apa? Jika kita tulis dengan warna hitam, maka hitamlah dia. Jika kita memberinya noda dengan warna merah, maka akan memerah segalanya. Mereka adalah inves masa depan negara. Bagaimana negara mau maju dan lebih baik dari segi moral dan agama? jika mereka telah rusak? Tolong bagi mereka yang menentang Undang-undang ini, berfikirllah bahwa Anda punya anak dan keturunan, jangan menilik dan menilai undang-undang ini dari segi material kebutuhan sesaat saja. Misalnya, jika undang-undang ini disyahkan bagaimana usaha diskotek saya? bagaimana usaha warung minuman saya? bagaimana tamu-tamu saya? bagaimana lahan rezeki saya di atas panggung dan televisi? bagaimana budaya bali dan lainnya yang menari dengan mempertontonkan aurat? Kalau tanpa mempertontonkan aurat, turis-turis tidak akan datang. Wisatawan asing lebih menghargai budaya asli indonesia dengan sopan dan santun. Jika mereka mau mencari budaya terbuka seperti itu mereka tidak perlu ke Indonesia, dinegaranya sudah bisa mendapatkan lebih dari sekedar di Indonesia.

    3. Orang-orang yang menentang rancangan undang-undang ini dengan alasan NKRI adalah orang-orang yang memusuhi islam dan merusak masa depan anak dan bangsa.

    4. Pengaruh Pornografi dan pornoaksi sangat kuat mempengaruhi mental dan iman seseorang, akan membawa orang yang mengutamakan kegiatan amoral tersebut pada kenistaan yang paling dalam.

    5. Karena pengaruh sifat amoral akan menurunkan kadar kerja otak untuk berlaku positif. Orang akan dibawa pada kehidupan yang semu penuh dengan hayal. Daya hayal yang diciptakan adalah hasil dari implementasi pemikiran yang dangkal. Pemikiran yang rendah itu akan menjadi penghalang bahkan sulit pada kecerdasan orang tersebut untuk berfikir positif dan logis.

    6. Peran kaum Liberal mengusung Anti RUU-APP sebagai penjegal NKRI dan budaya bangsa. Permasalahan pada ketiga budaya yang sebenarnya masih bisa kita toleriransikan dan kita musyawarahkan, menjadi ujung tombak pembelaan mereka. Bendera hukum yang mereka usung adalah potret kemunafikan kaum penjual perkara. Jika kaum intelektual advokasi memang berfikir positif dan benar-benar murni membela yang benar dan baik, maka tidak akan terjadi sidang penuntutan terhadap Habieb Rizieq, sidang yang terjadi pada Habieb Rizieq bagi mereka adalah sidang dagelan belaka, hanya untuk menutupi kebohongan publik agar tidak terlalu kentara. Pemikir intelektual muslim cerdas sudah mengerti bahwa sandiwara di pengadialan Habieb Rizieq adalah kamoflase kepentingan pihak Kapitalis liberal. Terbukti bahwa sidang itu di sudah diatur sedemikian rupa, tidak hadirnya saksi palsu yang akan membuat kesaksian bohong pada sidang terakhir kemarin, adalah salah satu bukti kekerdilan mereka. Mencari-cari kesalahan FPI yang sesungguhnya sangat tidak mendasar dan alasan tidak jelas.

    7. Banyak pihak yang bergantung pada kepentingan di bisnis pornoaksi dan porografi. Mereka takut jika disyahkannya RUU APP, akan menjegal jalan bisnisnya.

    8. Pemberitaan media baik elektronik maupun cetak tentang protes FPI dan dunia Islam terhadap maksiat sebagai anarkis dan pertentangan budaya serta pelanggaran Ham. Keterpojokan kaum liberal dan pendukung kemudhorotan dianggap sebagai pelanggaran HAM teramat fatal yang harus diproses hukum seberat-beratnya. Sedangkan pemberitaan kaum yang menjadi korban dari pihak FPI dan pembela Islam tidak pernah di ekspos, padahal kenyataan dilapangan dengan pemberitaan yang disiarkan sungguh sangat bertolak belakang.

    Demikan kuatnya kaum liberal membela kemaksiatan, seperti menyulut api dengan bensin, membuat marah pihak Islam pembela kebenaran. Mereka sengaja melakukan hal yang sesungguhnya sangat rentan dengan sara dan bertentangan dengan hukum (bahkan dilindungi badan hukum), agar pihak muslim garis keras yang menentang kemaksiatan dan membela kebenaran menjadi marah. Melihat kondisi hukum yang disetir dan kemaksiatan yang akan merobek-robek moral bangsa dan agama, sudah pasti kaum muslimin tidak tinggal diam, kaum penentang maksiat akan marah dan menerjang segala aral rintangan didepannya. Sudah pasti kondisi amarah seperti ini disenangi kaum liberal maksiat untuk memancing di air keruh, mengopori hati yang sudah panas. Alhasil tiada lagi berfikir positif untuk menentang kemaksiatan, yang ada tinggal jalan fisabilillah yang nereka pilih. Dari protes hingga aksi bentrok, adalah makanan empok untuk memojokkan Islam. Naudzubillah, summa naudzubillah… Terus maju Pembela Islam. Allah selalu bersama orang-orang yang membela Agama-Nya.

    Ditulis sendiri : Ibnu Gozali (pengamat Politik Islam)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: