Situs Islam: Klub Sekolah Mentoring Agama Islam

Puisi Hamka untuk NATSIR

Posted by WD on October 6, 2008

Kamis, 19 April 2007, umat Islam Indonesia kehilangan seorang pejuang Islam yang tangguh, Hussein Umar. Dia adalah ketua umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia. Sebuah SMS belasungkawa yang masuk ke HP saya menyatakan, ”singa podium” itu telah pergi meninggalkan kita.” Ya, memang julukan itu sangat tepat. Hussein Umar adalah seorang orator ulung. Tapi, dia bukan ’dai artis’, yang hanya bicara dakwah dan perjuangan di atas panggung. Seluruh waktu, pikiran, dan hidupnya dicurahkan untuk dakwah.

Bang Hussein – panggilan akrab Hussein Umar – memang pengagum para tokoh Masyumi. Salah satunya, Prof. Kasman Singodimedjo, seorang yang jika berpidato adalah laksana singa (Singo di Medjo). Hussein Umar sering mengungkap cerita kegigihan dan keberanian Kasman. Ketika Kasman dalam tahanan Orde Lama dan dipaksa untuk membuat pengakuan yang tidak dilakukannya, Kasman justru menantang petugas itu untuk menembaknya. Ketika dihadapkan padanya seorang perwira yang membuat cerita palsu tentang dirinya, Kasman justru membentak perwira itu dan menyatakan, ”Taubat kamu!” Perwira itu pun gemetar dibentak Kasman dan mengaku dia dipaksa untuk membuat cerita palsu.

Cerita lain seputar Kasman, salah satu tokoh idola Hussein Umar. Suatu saat Kasman berkunjung ke daerah pedalaman. Ketika mobil harus menyeberangi sungai di atas satu jembatan yang rapuh, pengantarnya meminta Kasman turun dan membiarkan sopir itu membawa mobilnya sendiri. Kasman marah dengan tindakan yang mau selamat sendiri itu dan membiarkan orang kecil celaka. Dia meminta semua naik mobil bersama-sama, selamat bersama, dan celaka pun harus bersama-sama. Tidak pandang orang berpangkat atau orang biasa. Sampai-sampai Kasman membentak, ”Syahadat ulang kamu!”

Hussein Umar menceritakan semua kisah itu dalam berbagai kesempatan, mengajak generasi berikutnya untuk meneladani kisah-kisah teladan para pejuang terdahulu. Maka, ketika saya berkunjung ke rumahnya, Rabu (18/4/2007) pagi – sekitar dua jam sebelum beliau di bawa ke rumah sakit – Bang Hussein juga menceritakan berbagai kisah teladan para tokoh Masyumi dalam dakwah. Salah satu yang saat itu ditekankan kepada saya adalah puisi Hamka yang ditulis untuk Natsir, saat berlangsungnya Sidang Konstituante tahun 1957.

Ketika itu, Bang Hussein bertanya kepada saya,”Sudah baca puisi Hamka yang ditulis untuk Pak Natsir dalam sidang Konstituante?” Saya jawab, ”Belum!” Ia lalu berdiri, masuk ke dalam kamar dan mengambil sebuah buku berjudul ”Islam Sebagai Dasar Negara”, karya Moh. Natsir, terbitan Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia. Bang Hussein memang kami kenal sebagai orang yang rajin dan telaten dalam mengkoleksi data-data yang penting.

”Ini bacalah!,” ujarnya menunjuk pada puisi Hamka yang tertera dalam bagian depan buku ”Islam sebagai Dasar Negara”. Saya pun terpana membaca puisi tersebut, kata demi kata, baris demi baris. Inilah puisi gubahan Hamka yang diberi judul ”Kepada Saudaraku M. Natsir”. Puisi ini ditulis Hamka di Ruang Sidang Konstituante pada 13 November 1957, setelah mendengar pidato Moh. Natsir di Majlis Konstituante:

Meskipun bersilang keris di leher

Berkilat pedang di hadapan matamu

Namun yang benar kau sebut juga benar

Cita Muhammad biarlah lahir

Bongkar apinya sampai bertemu

Hidangkan di atas persada nusa

Jibril berdiri sebelah kananmu

Mikail berdiri sebelah kiri

Lindungan Ilahi memberimu tenaga

Suka dan duka kita hadapi

Suaramu wahai Natsir, suara kaum-mu

Kemana lagi, Natsir kemana kita lagi

Ini berjuta kawan sepaham

Hidup dan mati bersama-sama

Untuk menuntut Ridha Ilahi
Dan aku pun masukkan

Dalam daftarmu …….!

Dalam kondisi tubuh yang lemah, tapi dengan suara yang bergetar, Bang Hussein mengucapkan dua baris terakhir puisi Hamka: Dan aku pun masukkan, dalam Daftarmu…!

Pidato Natsir dalam Sidang Konstituante tersebut memang luar biasa. Sebagai seorang ulama dan sastrawan, Hamka pun terpana dengan pidato Natsir itu, sampai menuliskan sebuah puisi khusus untuk Natsir. Ketika itulah, Natsir mengupas tuntas kelemahan sekularisme, yang dia katakan sebagai paham tanpa agama, atau la diiniyah. Sekularisme, kata Natsir, adalah suatu cara hidup yang mengandung paham, tujuan, dan sikap hanya di dalam batas keduniaan. ”Seorang sekularis tidak mengakui adanya wahyu sebagai salah satu sumber kepercayaan dan pengatahuan. Ia menganggap bahwa kepercayaan dan nilai-nilai itu ditimbulkan oleh sejarah ataupun oleh bekas-bekas kehewanan manusia semata-mata dan dipusatkan kepada kebahagiaan manusia dalam kehidupan sekarang ini belaka,” ujar Natsir.

Natsir dengan tegas menawarkan kepada Sidang Konstituante agar menjadikan Islam sebagai dasar negara RI. Kata Natsir, ”Jika dibandingkan dengan sekularisme yang sebaik-baiknya pun, maka adalah agama masih lebih dalam dan lebih dapat diterima oleh akal. Setinggi-tinggi tujuan hidup bagi masyarakat dan perseorangan yang dapat diberikan oleh sekularisme, tidak melebihi konsep dari apa yang disebut humanity (perikemanusiaan). Yang menjadi soal adalah pertanyaan, ”Dimana sumber perikemanusiaan itu?”

Tokoh-tokoh Masyumi – yang kemudian mendirikan Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia – adalah para pejuang Islam yang gigih dalam mengajukan konsep-konsep Islam, secara ilmiah dan argumentatif. Tetapi, mereka juga konsisten dalam memegang teguh aturan main secara konstitusional. Ketika perjuangan melalui jalur partai politik terganjal, para tokoh Masyumi pun menempuh jalur dakwah di masyarakat, masjid, pesantren, dan perguruan tinggi. Istilah mereka, dakwah adalah laksana air yang mengalir, tidak boleh berhenti, dan tidak bisa dibendung.

Rabu (18/4/2007) sekitar pukul 06.00 hari itu saya tidak bermaksud menjumpai Bang Hussein Umar. Ketika itu, saya sedang meluncur menuju satu tempat di Tanah Abang, Jakarta, menemui seorang teman dari Kuala Lumpur. Tapi, entah kenapa, berulang kali HP-nya gagal saya hubungi. Maka, di luar rencana semula, saya segera mengalihkan tujuan. Saya menelepon Bang Hussein Umar – panggilan akrab Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII). Sudah berbulan-bulan, sejak beliau menjalani operasi jantung di Kuala Lumpur, saya tidak berbincang dengan Bang Hussein. ”Ya Adian, saya sudah kangen juga,” ujarnya dari ujung telepon, sangat hangat, menyambut telepon saya.

Ketika saya datang, Bang Hussein sudah siap menyambut. Disiapkannya dua potong roti bakar untuk saya. Menyusul kemudian segelas minuman coklat hangat. Tapi, ada yang tidak biasa dengan pertemuan-pertemuan sebelumnya. Kondisinya terlihat lelah. Ia tampak sedikit menggigil. Sebuah jaket hitam dikenakannya. ”Saya merasa dingin sekali, tidak seperti biasanya,” ujarnya. Berulang kali ia harus keluar masuk, mengeluarkan dahak batuknya. Akhirnya, diambilnya sebuah plastik untuk menampung dahaknya. Namun, semua itu tidak mematahkan semangatnya untuk terus berbincang tentang berbagai masalah dakwah dan kenegaraan.

Sosok Hussein Umar adalah sosok dai dan politisi Muslim yang melanjutkan tradisi perjuangan para pendahulunya. ”Beliau bukan manusia biasa. Kita kehilangan seorang pejuang yang istiqamah. Kita semua menjadi saksi,” kata Prof. Didin Hafidhudin, mengantar kepergian Bang Hussein. Semua orang yang mengenal dekat Hussein Umar akan memiliki pendapat yang sama. Dua puluh tahun lalu, ketika saya masih aktif di lembaga kemahasiswaan Islam, Hussein Umar sudah saya kenal dengan materi khasnya, ”problematika umat”. Hingga kini, apa yang diperjuangkannya pun tidak bergesar. Hussein Umar tetap istiqamah dalam rel dakwah yang sama. Dia tidak pindah rel dan pindah jalur. Meskipun aktif dalam belasan lembaga dakwah, sosial, atau politik, Hussein Umar tetap membawa program ”tegakkan syariat Islam di bumi Indonesia!”

Selain mengingatkan perlunya istiqamah dalam dakwah, dalam perbincangan Rabu pagi di rumahnya itu, Bang Hussein juga mengingatkan agar para aktivis dakwah jangan sampai melupakan jasa-jasa para pejuang Islam Indonesia masa lalu. ”Karena jasa-jasa mereka, kita bisa menikmati situasi di Indonesia saat ini,” ujarnya. Ia pun berpesan, agar dalam dakwah tidak muncul sikap tergesa-gesa ingin menikmati hasil. ”Semua perlu proses dan kesabaran. Jangan kita bisa dijebak lagi, karena ingin cepat-cepat menuai hasil, lalu masuk dalam skenario yang justru akan menghancurkan gerakan dakwah,” nasehatnya.

Rabu pagi itu, saya sempat meminta Bang Hussein untuk bersedia ditulis biografinya. Judulnya pun sudah kami sepakati, yaitu ”Meluruskan Sejarah”. Beliau adalah seorang pelaku sejarah yang sangat penting untuk kita gali pengalamannya. Salah satu keprihatinan yang sempat diungkapkannya adalah adanya upaya pemutarbalikan sejarah G-30S/PKI yang menghilangkan peran umat Islam. Setelah itu, di Dewan Da’wah pun saya mengajak sejumlah teman untuk menulis birografinya.

Biasanya jika berkunjung ke rumah Bang Hussein, selepas shalat subuh, kami berbincang selama berjam-jam. Beliau adalah guru yang sangat kaya pengalaman dan memiliki ruh dakwah yang tidak pernah padam. Tapi, melihat tubuhnya yang melemah dan menggigil dengan batuk yang tiada henti, saya pun segera berpamitan. ”Saya juga mau istirahat,” ujarnya. Maka, kami pun berpisah. Beliau mengantarkan saya sampai keluar pintu pagar dan menutup pagarnya sendiri.

Rupanya, itulah perjumpaan saya terakhir dengan Bang Hussein. Menurut cerita putranya, sekitar dua jam setelah saya meninggalkan rumahnya, beliau harus dibawa ke rumah sakit, karena kondisinya memburuk. Padahal, operasi jantungnya di Kuala Lumpur berlangsung lancar. Beliau pun sudah mulai berkantor, seminar, khutbah, dan sebagainya. Tapi, Allah menghendaki lain. Allah mengabulkan keinginan Bang Hussein untuk menghadap-Nya dalam kondisi aktif dalam dakwah. Beliau tidak ingin pensiun dari dakwah.

Dan keesokan harinya, Kamis (19/4/2007), selepas shalat subuh, sebuah kabar duka saya terima, Bang Hussein telah tiada jam 04.00 pagi. Segera saya meluncur ke rumahnya. Sesampai di rumahnya, saya lihat tubuh Bang Hussein terbujur, dengan wajah yang sangat teduh dan tenang. Selamat jalan Bang Hussein! Doa kami menyertaimu. Kami akan melanjutkan perjuanganmu.

Seperti ujung puisi Hamka untuk Natsir: ”Dankami pun masukkan; Dalam Daftarmu!” Allahumma ighfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu.

——————————————————-

Adian Husaini
[Jakarta, 20 April 2007/ http://www.hidayatullah.com]

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: