Situs Islam: Klub Sekolah Mentoring Agama Islam

Hakikat Pemikiran Ekonomi Klasik Vs Keynesian

Posted by WD on October 10, 2008

Membaca artikel Farewell to the Neo-Classical Revolution-nya Robert Skidelsky, mungkin akan semakin menguatkan pendapat bahwa beberapa dekade lalu adalah masa kejayaan neo-Klasik. Namun menarik mencermati pergulatan pemikiran Klasik – Keynesian ini jika kita lebih teliti melihat apa yang terjadi disekitar kita. Tepatnya, ada beberapa kejanggalan yang mungkin kita bisa temukan dalam aplikasi dua pemikiran itu sehari-hari.

Pertama, ketika kampanye globalisasi didengungkan semenjak kaum moneteris “berhasil” mematahkan pemikiran Keynesian pada pertengahan tahun 1970-an, perekonomian dunia digerakkan oleh pemikiran Klasik dalam bentuk modernnya. Milton Friedman sebagai motor moneteris mengkritik kebijakan diskresi Keynesian yang akan berakhir pada kondisi Crowding Out, dimana kebijakan fiskal (G) kemudian menekan investasi swasta (I) yang terakumulasi pada stagnasi pertumbuhan ekonomi. Tetapi anehnya, mungkin sejak tahun 70-an pula, buku-buku teks yang menjadi buku pedoman bagi pembelajaran ekonomi bagi para calon-calon sarjana sampai Phd, adalah buku-buku yang lebih banyak disusun oleh kaum Keynesian. Lihat saja buku-buku yang ada ditangan anda para akademisi, buku Gregory Mankiw, Paul Krugman, Rudiger Dornbusch atau Stanley Fisher?

Entah kebingungan seperti apa yang akan dihadapi mereka para sarjana ketika akan mengimplementasikan ilmunya di lapangan, karena ternyata ada gap yang mendasar antara yang mereka pelajari (dan mungkin juga sudah mereka yakini) dengan kecenderungan perkembangan aplikasi ekonomi. Atau cukup menjawab kejanggalan ini dengan berkilah: “emang gue pikirin”. Kalau sudah seperti itu, yakinlah bahwa ilmu ekonomi yang realistis teraplikasikan adalah ekonomi madzhab pasar, tidak penting pemikiran ekonomi, tidak peduli apa itu Klasik atau Keynesian, yang penting perekonomian harus memberikan kepuasan maksimal bagi pemangku ekonomi (baik ia CEO multinational company maupun sekedar penguasa kelurahan).

Kedua, ketika  … >> Selanjutnya .. Download

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: