Situs Islam: Klub Sekolah Mentoring Agama Islam

Instrumen Keuangan Syariah; Komentar

Posted by WD on October 27, 2008

Oleh:Arlina Veralda binti Ardas Wahab

(silakan dikoreksi kalo2 ada informasi yang salah atau kurang)

Tanggal 20 Januari 2008, saya dan suami berkunjung ke Festival Ekonomi Syariah di JCC Jakarta. Acara yang ternyata umumnya dikunjungi oleh wanita2 berjilbab dan pria2 berjenggot ini menggaet sejumlah industri bidang ekonomi syariah, seperti perbankan, investasi, asuransi, properti dan sebagainya. Walaupun ada juga booth yang gak nyambung seperti booth pakaian dan sekolah Islam, saya salut kepada Bank Indonesia sebagai penyelenggara yang berinisiatif mengembangkan ekonomi syariah di Indonesia. Ya iya lah, buat bank, tentunya lebih menguntungkan dengan menggunakan perbankan syariah dibandingkan perbankan konvensional. Masih ingat krisis moneter 1998? Hampir semua bank berdarah-darah, kecuali bank-bank dan BMT syariah.

Berhubung belakangan saya agak sedikit mata duitan dan sedang tergila2 berinvestasi reksadana, tentunya saya senang sekali bisa datang ke pameran ini. Lupa deh dengan mabok dan capek saya di hamil bulan ke-6 ini. *^_^*. Ilmu yang didapet di sana lumayan banyak. Sayang, BNI Syariah menggelar marawis yang super berisik di booth-nya, sehingga saya tidak bisa mendengarkan diskusi dengan Safir Senduk di booth HSBC Amanah dan Onno W. Purbo di booth Bank Permata Syariah.

Reksadana

Ini bagian yang paling menarik *^_^*

Reksadana adalah sebuah wadah bagi sekumpulan orang yang ingin berinvestasi di saham, obligasi dan pasar uang. Pasar uang di sini, bukanlah dalam artian jual beli mata uang asing, melainkan instrumen seperti tabungan dan deposito. Orang-orang yang ingin berinvestasi, dapat menitipkan uangnya pada perusahaan yang akan mengelola pembelian saham, obligasi atau penempatan dana kita pada pasar uang, yang disebut dengan Manager Investasi.

Safir Senduk dalam sebuah artikelnya memaparkan bahwa reksadana ini ibarat shalat berjamaah. Kalau kita menabung di bank, membeli obligasi dan saham melalui BEJ, itu ibaratnya shalat sendirian. Tentunya ada kesulitan bila kita membeli obligasi atau saham sendiri. Selain uang yang diperlukan cukup besar (bisa mencapai Rp. 100 juta), saham yang bisa dibeli juga terbatas pada 1-2 perusahaan, kita juga harus memiliki kemampuan analisa yang baik untuk menjual atau membeli obligasi/saham tersebut. Sedangkan pada reksadana, jumlah uang yang diperlukan untuk berinvestasi tidaklah besar, ada yang cuma minimal Rp. 100ribu. Dana yang terkumpul dapat dialokasikan ke berbagai saham/obligasi perusahaan, dan kita tidak perlu memiliki daya analisa tinggi untuk melakukan jual-beli obligasi/saham, melainkan cukup mempelajari kredibilitas Manager Investasi dimana kita akan menaruh dana investasi kita.

Perbedaan reksadana syariah dan konvensional, hanya terletak pada dimana Manager Investasi meletakkan dana invesatasinya. Untuk reksadana saham, bila saham konvensional mengacu kepada saham-saham di IHSG, reksadana syariah mengacu kepada JII (Jakarta Islamic Index). Saat ini hanya ada beberapa perusahaan yang termasuk dalam JII, seperti Telkom, Antam, Unilever, Astra dll. Sedangkan perusahaan yang menghasilkan produk tidak halal seperti bank konvensional, rokok, minuman keras, tidak dapat masuk ke dalam JII. Untuk dapat dikategorikan ke dalam JII, saham sebuah perusahaan harus mendapat persetujuan dari Dewan Syariah Nasional MUI yang diatur oleh Bapepam RI.

Dengan terbatasnya daftar perusahaan yang masuk ke dalam JII, secara teori tentunya dari sisi return, reksadana syariah tidaklah setinggi reksadana konvensional. Tapi ternyata anggapan ini dipatahkan oleh PNM Ekuitas Syariah, dimana hanya dalam 6 bulan pembukaannya sejak Agustus 2007, berhasil mendapatkan return sekitar 45%. Lumayankan, dengan modal awal Rp. 500ribu, hanya dalam waktu 6 bulan, investasi kita bertambah menjadi Rp. 700ribuan – dasar mata duitan! *^_^* – Saya jadi nyesel gak buka PNM ES dari dulu, karena dalam rentang yang sama, Danareksa Syariah saya hanya berhasil mendapatkan return 30-35% saja…. (dasar kemaruk!!)

Hanya saja, reksadana saham ini mengandung resiko yang tinggi, dalam artian dana investasi yang kita setorkan kepada Manager Investasi, hilang atau minus, karena kesalahan Manager Investasi menempatkan dananya, atau karena efek penurunan IHSG/JII dan/atau penurunan nilai saham di dunia, atau alasan lainnya.

Bagi yang mau cari aman, bisa saja menempatkan dananya di reksadana obligasi atau pendapatan tetap. Saat ini ada lebih kurang 19 obligasi syariah (atau yang kini dikenal dengan sebutan sukuk) yang tercatat di pasar modal Indonesia. Menurut mbak Dini dari Bhakti Asset Management, reksadana obligasi syariah ini memberikan return yang lebih tinggi dari pada obligasi konvensional. Karena selain obligasi ini hanya terbatas pada 19 perusahaan, demand terhadap obligasi syariah ini cukup tinggi, sehingga intensitas jual beli obligasi syariah ini tinggi juga.

Saat ini saya sudah menempatkan reksadana syariah saya pada 2 perusahaan, Danareksa dan PNM. Kenapa Danareksa dan PNM? Karena keduanya BUMN, jadi kemungkinan bangkrut kecil, hehehe…. Langkah selanjutnya saya tertarik menempatkan dana saya di Fortis Investment yang sekarang sedang naik daun. Tapi apa daya, reksadana syariah Fortis, hanya dijual di HSBC dan HSBC Amanah, yang memiliki target nasabah premium. Sehingga mereka meminta setoran pertama, minimal Rp. 20 juta. Hik hik hik, uang dari mana ya? Semoga reksadana syariah Fortis nantinya dijual juga di bank-bank level mengenah, jadi saya bisa beli *^_^*

Asuransi dan Unit Link

Beberapa perusahaan seperti Takaful, Prudential Syariah dan Allianz Syariah menawarkan paket-paket asuransi murni atau unit link (asuransi sekaligus investasi). Dari hasil baca-baca tulisan sejumlah financial planner, ternyata lebih menguntungkan kalau kita memiliki asuransi murni plus investasi di reksadana daripada punya unit link. Kenapa? Karena unit link menempatkan investasi mereka pada reksadana juga, dengan memotong management fee sampai 5%. Jadi, daripada kena potongan 5% dari si perusahaan asuransi, mendingan beli sendiri langsung ke Manager Investasi-nya kan? Belum lagi adanya biaya2 akusisi yang lumayan merugikan consumer.

Ini juga sudah saya buktikan sendiri dengan menghitung-hitung uang saya yang sudah 4 tahun saya setorkan ke sebuah unit link. Ternyata jauh lebih menguntungkan kalau saya investasi sendiri, 

Dari mas Bakti di Allianz Syariah, saya dan suami mendapat penjelasan bahwa asuransi jiwa syariah, ternyata juga lebih menguntungkan daripada asuransi jiwa konvensional, baik bagi tertangung, maupun bagi perusahaan asuransi. Dalam asuransi jiwa konvensional ada yang namanya zero-sum-game. Dimana uang pertanggungan baru bisa diterima ahli waris, bila tertanggung meninggal dunia. Bila dalam rentang waktu perjanjian tertanggung tidak meninggal, maka uangnya hangus. Sedangkan dalam asuransi jiwa syariah, konsep yang digunakan adalah tabbaru’ (tolong menolong). Dimana sebagian dari uang premi kita akan dipotong ke dalam dana tabbaru dan diinvestasikan. Sebagian lagi diinvestasikan untuk tertanggung. Nah, hasil investasi dana tabbaru’ ini yang akan dibayarkan kepada peserta asuransi jiwa syariah lain, yang meninggal dunia. Jadi bila dalam rentang waktu perjanjian tertanggung meninggal dunia, maka ahli waris akan menerima uang pertanggungan. Sedangkan bila dalam rentang waktu perjanjian tertanggung tidak meninggal dunia, maka uang hasil investasi non-tabbaru’ akan dikembalikan kepada tertanggung. Kalo dihitung2 di Asuransi Takaful, dengan asumsi perkembangan investasi 10% per tahun saja, premi yang dibayarkan akan kembali 20-30% bila tertanggung tidak meninggal dunia.

Menurut suami saya, konsep zero-sum-game merupakan konsep bisnis Yahudi. Seperti pada bisnis bangsa Yahudi umumnya, mereka menganut konsep “loe buntung, gue untung.” Berbeda dengan ekonomi syariah yang berkonsep win-win solution.

Kartu kredit

Danamon Syariah merupakan satu2nya bank yang meluncurkan kartu kredit yang disebut dengan Dirham Card. Mereka mengklaim sebagai kartu kredit syariah pertama di Indonesia. Tapi seingat saya, BII Syariah pernah juga meluncurkan kartu kredit sejenis, walaupun gagal di pasaran. Komentar suami saya, “Yah, (Danamon dan BII) punya Temasek lah, boleh dong mereka ngaku jadi yang pertama.” *^_^*

Terus terang, kartu kredit syariah ini menurut saya agak gak logis. Entah karena otak saya bolot menerima penjelasan marketing kartu ini, atau si pak marketing yang menjelaskan dengan tidak benar. Mereka tidak mengenal bunga, tapi “sewa jaringan” yang besarnya 3% dari nominal hutang (oh well, hanya perbedaan istilah kah?) Selain itu, bila terjadi keterlambatan pembayaran dalam rentang waktu tertentu, dikenakan denda sekian rupiah. Nah lho, bukannya itu yang disebut riba?

Menurut Ustad Ust. H. Ahmad Sarwat, Lc. pada www.eramuslim.com meminta kembalian lebih dari yang dipinjamkan adalah termasuk riba, berdasarkan hadist “Dari Abi Said Al-Khudhri ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kalian menjual emas dengan emas kecuali yang sama sebanding. Dan jangan ditambah sebagian atas yang lainnya. Janganlah kalian menjual emas dengan perak kecuali yang sama sebanding. Dan jangan ditambah sebagian atas yang lainnya. Dan janganlah menjual perak yang tidak nampak dengan yang nampak. (HR Bukhari dan Muslim)

Jadi saya belum ngerti dari sisi mana si kartu kredit tersebut dianggap syariah. Selain itu mereka pun tetap mengenakan biaya tahunan sebesar Rp.175ribu rupiah (yang kali ini mereka tawarkan gratis).

Dengan banyaknya keraguan mengenai konsep kartu kredit tersebut, walaupun sudah diperbolehkan oleh MUI, bank-bank syariah lainnya, terutama Bank Syariah Mandiri dan Bank Muammalat, masih menolak konsep ini (source-nya lupa)

Kredit rumah dan mobil

Sebenarnya ini salah satu materi yang menarik juga untuk ditanyakan. Sayang, karena kesorean, kami tidak sempat mengunjungi bank2 yang menawarkan pinjaman berbasis bagi hasil ini. Padahal kami punya pertanyaan besar, “Kenapa pada umumnya, kredit syariah jatuhnya lebih mahal daripada kredit konvesional?” Ada yang bisa bantu menjelaskan?

Tabungan dan Deposito

Mungkin sebagian juga sudah tau kalau perbedaan tabungan/deposito konvensioanal dan syariah itu terletak pada bunga dan bagi hasil. Bagi saya, tabungan hanyalah pengganti dompet dalam bentuk elektronik. Ketimbang bawa2 duit cash, mendingan bawa kartu tabungan yang berfungsi sebagai ATM dan Debit Card. Selain itu, kata ibu2 dan bapak2 financial planner tabungan juga diperlukan untuk menyimpan dana darurat (teorinya sejumlah 6x pengeluaran bulanan), kalo2 kita perlu uang likuid segera.

Deposito? Sekarang ini lagi gak ngetrend lah ya, secara bunganya (ataupun bagi hasilnya) jauh lebih kecil daripada inflasi. Tapi inget2 tahun 1998, asik juga mendadak bunga deposito bisa naik sampe 40%. Tapi waktu itu inflasi naik berapa ratus persen ya? *^_^*./font>

http://lilyardas.wordpress.com/2008/02/04/dari-festival-ekonomi-syariah/

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: