Situs Islam: Klub Sekolah Mentoring Agama Islam

Ali Ibnu Ridhwan: Saksi Sejarah Fenomena Supernova 1006

Posted by WD on November 1, 2008

Kairo, 17 Sya’ban 396 H/30 April 1006. Seorang remaja sungguh terkagum-kagum saat menatap langit malam di tanah kelahirannya. Pria yang saat itu berusia 18 tahun tersebut tercatat sebagai salah seorang saksi sejarah peristiwa astronomi amat dahsyat di awal abad XI: Supernova. Sebuah peristiwa meledaknya suatu bintang di galaksi yang memancarkan energi sangat besar.

Cahaya ledakan bintang itu dapat disaksikan penduduk bumi yang terbentang dari daratan Eropa hingga ke Cina. Bintang yang mengalami supernova memang akan tampak sangat cemerlang mencapai ratusan juta kali cahaya bintang tersebut saat masih aktif. Supernova menandai berakhirnya riwayat sebuah bintang di galaksi.

Fenomena Supernova yang terjadi 10 abad silam itu hingga kini masih bisa dilihat para astronom berupa awan yang mengembang dari letusan bintang. Pengalaman melihat cahaya ledakan bintang di galaksi itu begitu membekas dalam diri remaja asal Kairo itu. Saat fenomena astronomi yang langka itu terjadi, sebenarnya Ibnu Ridhwan baru saja memasuki bangku kuliah di sekolah kedokteran. Meski begitu, ia sudah memiliki hasrat untuk mempelajari astrologi. Pada masa itu, Mesir baru saja ditaklukkan oleh Dinasti Fatimiyah. Dinasti yang saat itu dipimpin Khalifah Al-Hakim berpusat di Kota Kairo.

Sejak menyaksikan fenomena yang luar biasa itulah, remaja bernama Ali Ibnu Ridhwan itu mencurahkan hidupnya untuk mempelajari astronomi dan astrologi. Berkat ketekunan dan dedikasinya yang sangat tinggi, Ibnu Ridhwan kemudian menjelma menjadi seorang astronom besar dan kesohor di abad XI.Salah satu mahakarya yang dihasilkannya adalah merekam peristiwa-peristiwa astronomi penting selama hidupnya. Para astronom dan sejarawan di zaman modern mendapatkan informasi tentang Supernova 1006 dari buku yang ditulisnya.

Sejatinya, astronom dan astrolog yang sangat berpengaruh itu bernama lengkap Abu ‘l Hasan Ali Ibnu Ridhwan Al-Misri (998-1067). Para penulis di Barat menyebutnya dengan panggilan Haly atau Haly Abenrudian. Selain berprofesi sebagai astronom dan astrolog, Ibnu Ridhwan juga dikenal sebagai seorang dokter dan kritikus kedokteran Yunani, terutama Galen.Kritiknya atas karya-karya Galen–seorang tabib dari Yunani kuno ditulis dalam buku berjudul Ars Parva. Buah karyanya itu kemudian diterjemahkan oleh Gherard of Cremona ke dalam bahasa Latin. Observasi yang dilakukannya terkait fenomena Supernova 1006 M dituliskannya dalam Ptolemy’s Tetrabiblos.

Dalam buku yang ditulisnya itu, Ibnu Ridhwan menyatakan bahwa cahaya yang ditimbulkan oleh fenomena Supernova 1006 itu tiga kali lebih besar dari Planet Venus. Karyanya begitu berpengaruh di peradaban Barat hingga abad ke-16 M. Karyanya yang lain diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, De revolutionibus nativitatum> (The Revolutions of Nativities) oleh Luca Gaurico dan dicetak di Venicia pada 1524.

Selain itu, karyanya yang lain, Treatise on the Significations of Comets in the twelve Signs of the Zodiac, juga dialihbahasakan ke dalam bahasa Latin bertajuk, Tractatus de cometarum significationibus per XII signa zodiaci, dicetak di Nurnberg pada 1563 M. Itu berarti pemikiran Ibnu Ridhwan mampu bertahan hingga berabad-abad lamanya. Sebuah pencapaian yang sungguh luar biasa.

Setahun sebelum fenomena Supernova ‘mengguncang’ dunia, Khalifah Al-Hakim pada 1005 M mulai mendirikan Dar al-`Ilm (Rumah Pengetahuan) di Kairo. Ini merupakan universitas umum yang informal. Sehingga, siapa saja bisa datang untuk membaca, menyalin buku, belajar, atau ikut perkuliahan berbagai bidang studi. Di tempat itu diajarkan teologi, tata bahasa, filologi, kedokteran, dan astronomi.

Sedangkan astrologi tak diajarkan di Dar al-‘Ilm. Al-Hakim kurang suka dan tak menaruh perhatian pada bidang astrologi. Bahkan, pada 1013 M, khalifah melarang umat Islam untuk mempraktikkan astrologi. Sejumlah astrolog pun sempat kena cekal sang khalifah. Sang khalifah lebih mendukung pengembangan studi astronomi dan turut mensponsori berdirinya observatorium.Ibnu Ridhwan memang tak menceritakan Dar al-‘Ilm dalam biografinya. Namun, menurut para sejarawan, Dar al-‘Ilm sempat menjadi pusat kegiatan intelektual bagi masyarakat di Kota Kairo. Dalam autobiografi yang ditulisnya, Ibnu Ridhwan mengisahkan perjalanan hidup masa kecilnya.

Saat masih kanak-kanak, ia menikmati pendidikan dasarnya di masjid sekitar rumahnya. Di tempat itu, dia mulai belajar membaca dan menulis serta menghafal Alquran. Memasuki usia 15 tahun, Ibnu Ridhwan memilih untuk belajar ilmu kedokteran dan filsafat. “Saya kurang beruntung,” cetusnya. Ia mengaku harus membiayai pendidikannya dengan keringat sendiri.”Studi saya menjadi terhambat oleh berbagai halangan dan kesulitan,” tutur Ibnu Ridhwan. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, Ibnu Ridhwan mengaku harus menjalankan praktik astrologi. Terkadang, dia juga mempraktikkan ilmu kedokterannya. “Kemudian saya juga mengajar.”

Saat pertama kali belajar di sekolah kedokteran, Ibnu Ridhwan sempat kecewa. Pasalnya, para mahasiswa kedokteran harus membayar sejumlah uang agar bisa belajar dari seorang guru terkemuka. Para mahasiswa berduit belajar menghafal dan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan para guru terkemuka. Cara belajar seperti itu pun dikritik Ibnu Ridhwan.Ia lalu memutuskan untuk berhenti belajar dari gurunya itu. Sempat terpikir olehnya untuk belajar dari seorang guru kedokteran kesohor di Irak. Namun, Ibnu Ridhwan mengaku tak mampu untuk hijrah ke Irak. Meski serbaterbatas, semangat belajarnya tak pernah padam. Ibnu Ridhwan akhirnya memutuskan untuk autodidak. Ia memilih membaca karya-karya kedokteran yang ditulis Galen.

Keseriusannya mempelajari ilmu kedokteran juga berbuah manis. Seorang temannya yang sudah berprofesi sebagai dokter mengajaknya untuk menjadi asisten dokter. Di tempat itulah, dia belajar praktik kedokteran sebagai dokter pengganti dan memiliki pasien langganan sendiri. “Duniaku adalah kedokteran dan astronomi,” papar Ibnu Ridhwan.Selain mempelajari ilmu kedokteran, Ibnu Ridhwan juga serius mempelajari astronomi. Di perpustakaan pribadinya, sang dokter yang astronom itu menyimpan salinan Tetrabiblossebuah buku astrologi karya astronom dan matematikus Yunani dari abad ke-2 M, Ptolemeus. Ia lalu menulis kritik dan komentar atas karya Ptolemeus yang dipelajarinya secara intens.

Ibnu Ridhwan pun berhasil mencapai posisi tertinggi dalam bidang kedokteran. Ia diangkat menjadi kepala dokter istana. Sejarah mencatatnya sebagai seorang ilmuwan yang produktif. Tak kurang dari 100 karya dalam berbagai bidang, seperti astronomi, kedokteran, filsafat, ilmu alam, serta astrologi berhasil ditulisnya. Saksi sejarah fenomena Supernova itu tutup usia pada 1067 M. heri ruslan

http://www.republika.co.id/koran/36/10540.html

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: