Situs Islam: Klub Sekolah Mentoring Agama Islam

Kerinduan Ukhuwah

Posted by WD on March 7, 2010

Oleh Fuad Abdul Rahman

Ikhwah fillah, tidak terasa waktu terus berjalan dan kini kita menapaki tahun baru 1431 H, Aktivitas dakwah, perkuliahan, sekolah dan kegiatan sehari-hari kita renungi, begitu pula hubungan kita terhadap Allah, orang tua kita, tetangga kita, saudara-saudara kita, mari kita evaluasi dan  kita selami apa yang belum baik. Hakikat hijrah yang kita maknai ditahun baru ini, sebaiknya memiliki dampak yang signifikan pada bentuk perubahan yang harus kita lakukan di tahun baru ini. Merujuk permasalahan yang sering kali kita hadapi sebaiknya kita perbaiki pula, yakni kerinduan akan hakekat ukhuwah yang sebenarnya diantara kita.

Orang mu’min itu bersaudara, laksana satu tubuh, seperti bangunan yang kokoh, berkasih sayang sesamanya dan saling mengucapkan “Saudaraku, sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah”. Para Ulamapun meletakkan “ukhuwah’ mendampingi ‘iman’. Siapapun orangnya, pati merindukan suasana ukhuwah yang kental. Allah pun menyebutkan Ukhuwah dalam Al-Qur’an ,Tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan taqwa. Bukan tolong menolong dalam dosa dan permusuhan.(Al-Maidah:2).

Meskipun rata-rata orang mendambakan ukhuwah, tapi tak sedikit yang kurang  memahami hakekat ukhuwah.Contoh sederhana, saya mengajak kita semua menguji
tingkat ukhuwah kita. Caranya mudah. Pilih satu atau dua orang nama sahabat kita. Kemudian,buat list apa yang kita sukai darinya yang menyebabkan kita menyayanginya. Banyak bukan? Mungkin dia sangat perhatian pada kita, sering membantu kita, sering men-taushiyahi kita dengan cara yang kita sukai, penyabar, hobby kita mirip, enak untuk kerja sama dan sebagainya. Benarkah begitu? Kalau benar begitu, maka sesungguhnya ukhuwah kita rapuh, sebab cinta kita ada pamrihnya.

Seperti cintanya seorang ibu. Apa yang menyebabkan seorang ibu mencintai anaknya, selain dari karena anak itu adalah anaknya? Apakah karena anaknya cantik, baik, penurut, berbakti, berprestasi? Bukan! Cinta seorang ibu tumbuh secara ikhlas bersamaan tumbuhnya janin di dalam rahimnya. Tak peduli, seperti apa rupa anaknya nanti, tak peduli seperti apa budi anaknya kelak. Bahkan, pintu maaf pun selalu terbuka untuk setiap tetes peluh dan air mata menyaksikan prilaku sang anak.

Lebih jauh, semestinya kita memahami bagaimana cintanya Allah SWT pada kita. Adakah sebabnya Allah mencintai hamba-Nya? Adakah seluruh nikmat yang diberikan sebagai tanda cinta-Nya memiliki sebab? Allah SWT tidak menginginkan apapun dari kita, sebab memang Dia tak butuh. Beribadah atau tidaknya kita, tidak akan mengurangi kekuasaan-Nya. Bukan hanya tanpa pamrih, cinta juga selalu bermakna pengorbanan, kasih sayang dan memberi.Inilah filosofi cinta yang sebenarnya.

Cinta seperti inilah yang mestinya kita bangun dalam berukhuwah. Karena dia mukmin, itu saja. Tentunya dalam hal ini defenisi mukmin adalah mukmin yang sebenarnya, yang shaleh serta berkomitmen. Siapa pun orangnya yang kita temui, ketika dia beriman, maka perlakukanlah dia laksana bagian tubuh kita.
Tak peduli apakah dia menyenangkan atau tidak bagi kita.
Tak peduli apakah kerap kali dia membuat kita sedih atau menyakiti kita.
Tak peduli seberapa sering kita berbeda pendapat atau beradu argument dengannya dalam amanah-amanah kita.
Tak peduli, betapa sering dia membutuhkan bantuan kita, tanpa pernah berlaku sebaliknya.
Tak peduli betapa jauh perbedaan sifat dan hobby kita.
Tak peduli betapa sering dia mengacuhkan kita sementara kita selalu mengasihinya. Sebab semuanya itu manusiawi sekali.

Kalau ini yang kita bangun dalam ukhuwah, alangkah indahnya. Tak ada lagi pilih-pilih teman.Tak ada lagi sakit hati karena tersinggung,yang kadang sampai menghindari berbicara dan bertemu. Tak ada lagi hitung-hitungan amal. Sehingga hati tenang jiwa pun tentram.

Rasulullah SAW. memberikan resep sederhana untuk dapat mengikat kembali tali-tali yang putus hingga dapat menghimpun hati-hati yang retak dan mewujudkan ukhuwah yang kita rindukan. Beliau mengatakan:”Sebarkanlah salam, berikanlah makan dan dirikanlah shalat malam”. Resep ini memang terkesan sangat simple. Namun terdapat makna yang mendalam dibelakangnya.

Depok, 10 Muharram 1431 H

maroji’

1. Mengamalkan Teori Ukhuwah, Al-Ikhwan.net
2. Hakekat Ukhuwah, http://bening1.wordpress.com

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: