Situs Islam: Klub Sekolah Mentoring Agama Islam

Stop! Jangan Kecanduan Games

Posted by WD on August 24, 2010

Bahaya kecanduan nonton televisi sudah banyak diulas. Namun, ancaman kecanduan games di internet rupanya tak kalah ganas. Di China, bocah umur 13 tahun langsung bunuh diri setelah main di inernet selama 36 jam.

Entah apa yang menyebabkan anak itu bunuh diri. Di duga ia kalah bermain. Orangtua anak tersebut sedang mengajukan tuntutan hukum terhadap pemegang lisensi permainan yang mengedarkannya di China.

Menurut seorang pecandu, sebagaimana diungkap Reuters Health, suasana permainan games di Internet memang mencekam. Pecandu berusia 21 tahun itu mengaku sulit meninggalkan ruangan selama lima tahun, sehingga bobot tubuhnya membengkak. Ia pun mulai mengonsumsi narkoba.

Seperti yang lainnya, pria yang disebut bernama Tim itu mengawali kecanduannya dengan bermain sendiri menggunakan videogames dan berkenalan dengan GameBoy ketika umurnya masih 12 tahun. Dari situ keasyikannya berkembang.

Ia pun mulai bermain online games dengan lawan atau pasangan serentak di berbagai tempat (multiplayer online games). Permainan seperti itu lazimnya menawarkan kisah di jagad virtual yang tak pernah terselesaikan (sehingga menumbuhkan rasa penasaran), yang dapat dinikmati oleh ribuan orang sekaligus.

“Aku bahkan tidak bisa ke toilet karena itu berarti aku harus berhenti dan kalah. Makanya aku selalu bawa botol kosong untuk pipis,” tutur pecandu lain.

Mungkin karena suasana seperti itulah di Korea Selatan — salah satu negeri yang dijuluki sebagai komunitas online games saking banyaknya penggila games internet di negeri itu — pemerintah lalu bekerja sama dengan operator permainan tersebut untuk membentuk sistem yang dapat mengurangi perilaku kompulsif pecandu games. Tahun lalu di negeri itu ada korban meninggal karena gagal jantung setelah bermain game Starcraft selama 50 jam di sebuah kafe internet.

Daya tarik game seperti World of Warcraft, game tentang sihir dan ksatria Everquest, game balapan Gran Turismo, atau game 2008 FIFA World Cup, merupakan industri yang bernilai miliaran dolar. Menurut riset pasar yang dilakukan oleh perusahaan riset DCF Intelligence, pasar games online di seluruh dunia diramal akan mencapai angka 13 miliar dolar AS pada tahun 2011 atau melonjak dari 3,4 miliar dolar di tahun 2005. Perusakaan riset tersebut memperkirakan, sekitar 114 juta orang akan bermain games online hingga akhir 2006.

Sebagai sebuah bisnis, perhitungan tersebut memang menggambarkan prospek yang mengasyikkan. Namun, menurut sebuah penelitian, bermain games dapat memicu meningkatnya zat dopamine di dalam otak.

Sebuah studi di Hammersmith Hospital, sebuah rumah sakit di London, Inggris, menunjukkan bahwa meningkatnya kadar dopamine sama dengan meningkatnya kadar amphetamine, yang dapat menyebabkan kecanduan. Meningkatnya amphetamine inilah yang membuat para pemain menjadi asyik.

Di sebuah panti penyembuhan kecanduan games, Smith & Jones, di Amsterdam, Belanda, umumnya pecandu yang menjalani penyembuhan adalah mereka yang sampai mengabaikan kehidupan sehari-hari, seperti sekolah, bekerja, bergaul, kebersihan dan kesehatan pribadi, hanya supaya bisa tetap bermain, sambil mengonsumsi minuman penambah tenaga supaya tidak lelah dan jatuh tertidur.

Meski para ahli masih berdebat apakah berlama-lama main game termasuk kecanduan atau tidak, pakar tentang kecanduan, Keith Baker, sudah mendirikan sebuah panti penyembuhan bagi para pecandu. Baker adalah mantan pecandu alkohol kelahiran Amerika Serikat.

Dengan suasana tenang yang terdapat di sebuah bangunan abad 16 yang terletak di salah sebuah kanal  di Amsterdam, Belanda, ia berharap dapat membujuk mereka yang terjebak di dunia fantasi untuk kembali pada kenyataan. Lantai rumah yang terbuat dari kayu berwarna seperti madu yang selalu dihangatkan oleh sinar matahari itu merupakan  klinik pertama di Eropa untuk merehabilitasi orang yang kecanduan bermain games online.

“Kami mulai memperhatikan masalah kecanduan ini sekitar dua tahun yang lalu. Orang-orang memang menganggap keranjingan game sebagai masalah sekunder,” kata Baker, yang kemudian menjadi direktur panti penyembuhan kecanduan game, Smith & James.

“Ketika itu kami mendapati seorang anak yang bermain game selama 18 jam per hari. Karena kami ingin mengirim anak tersebut ke suatu tempat penampungan, kami lalu mencari ke sekeliling , tetapi tidak menemukannya,” tutur Baker, yang pernah berjuang untuk lepas dari jeratan  narkoba dan alkohol di masa lalunya.

Dari situlah Smith & Jones lalu menawarkan program untuk menolong para pecandu, baik untuk mereka yang kecanduan games online dan mereka yang ketagihan videogames. Ada beberapa kelompok yang kemudian datang. Pada dasarnya mereka adalah pecandu yang tidak gampang berubah.

Jadi, “Ada yang datang hanya satu kali untuk mengikuti program lalu menceritakan tentang segala sesuatu yang indah. Begitu sampai di rumah, mereka tetap bermain game kembali,” tutur Baker.

Padahal, program penyembuhan yang ditawarkan Smith & Jones itu butuh waktu antara 4-6 minggu lamanya. Perawatan yang ditawarkan mirip dengan yang digunakan untuk mengatasi kecanduan judi dan alkohol. Namun, pada kecanduan games online, hal paling sulit adalah menjauhkan diri dari komputer, yang tentu saja susah untuk dihindari dalam kehidupan sehari-hari sekarang ini.

“Pemain game tidak bisa begitu saja berhenti menggunakan komputer karena komputer sudah menjadi bagian penting kehidupan kita,” kata Maressa Hecht Orzack, pendiri layanan terhadap kecanduan komputer di McLean Hospital Boston, Amerika Serikat, kepada majalah New Scientist.

“Mereka harus belajar menggunakan komputer secara normal, sama seperti orang dengan gangguan pola makan harus belajar makan untuk bertahan hidup,” tambah Orzck, yang juga seorang psikolog klinis itu.

Setelah menjalani perawatan, para pasien harus belajar menghadapi kenyataan yang tidak menyenangkan bahwa kecanduan mereka akan tetap ada.

Baker menjuluki dorongan untuk kembali bermain games online ini sebagai teroris yang berada di dalam diri seorang pecandu. “Teroris itu memang tidak bisa menghancurkan diri kita, tetapi dia akan selalu berkata, “Tidak apa-apa bermain game sekali-sekali, satu penmainan warcraft tidak masalah,” katanya. “Tetapi, kita harus memerangi pikiran itu setiap hari. ***

***dikutip dari Kompas Cyber Media

Sumber: http://uneez.multiply.com/journal/item/4/Stop_Jangan_Kecanduan_Games

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: