Situs Islam: Klub Sekolah Mentoring Agama Islam

Menjadi Mentor Ideal

Posted by WD on June 8, 2011

Menurut Kamus Bahasa Indonesia, mentor berarti pembimbing atau pengasuh. Mentor adalah orang yang siap secara mental dan pikiran untuk membimbing atau mengasuh orang lain agar melakukan proses perubahan menuju tujuan yang dikehendaki. Hal ini berarti pada diri seorang mentor telah ada kesiapan mental dan pikiran untuk menjadi seorang mentor itu sendiri. Tanpa paksaan atau tanpa indoktrinasi dari orang lain atau dari lingkungannya. Kesadaran tersebut muncul dari konsep diri yang jelas tentang perannya sebagai mentor. Seorang mentor juga adalah orang yang memahami bahwa membimbing atau mengasuh orang lain membutuhkan proses. Tidak instan dan drastis. Disini seorang mentor mesti memiliki pengetahuan tentang cara-cara membimbing orang lain secara berproses. Selain itu juga mesti memiliki sifat sabar terhadap proses perubahan dari orang yang diasuhnya, yang mungkin membutuhkan waktu lama.
Dalam mengasuh atau membimbing orang lain tersebut, seorang mentor juga harus memiliki tujuan, sehingga proses perubahan itu berjalan dengan target yang jelas. Tanpa tujuan yang jelas, proses perubahan akan berjalan tanpa arah, tanpa kepastian, dan tanpa motivasi yang tinggi. Karena itu sebelum menjadi mentor, sang mentor perlu terlebih dahulu memahami tujuan dari proses perubahan yang diinginkannya dari orang yang diasuhnya.

Apa yang dimaksud konsep diri seorang mentor?
Seperti yang disebutkan di muka, seorang mentor perlu memiliki kesiapan mental dan pikiran untuk menjadi mentor. Hal ini berarti seorang mentor perlu memiliki konsep diri yang jelas sebagai mentor. Konsep diri adalah gambaran atau persepsi seseorang terhadap dirinya sendiri. Konsep diri dipengaruhi oleh pendidikan dan lingkungan seseorang. Ia juga dipengaruhji oleh factor genetika, tapi hal ini lebih kecil pengaruhnya dari faktor lingkungan dimana seseorang dididik dan dibesarkan.
Secara umum, konsep diri terbagi menjadi dua. Konsep diri positif dan negatif. Konsep diri positif adalah konsep diri yang mendukung orang tersebut untuk maju dan sukses meraih tujuan kemanusiannya. Sebaliknya, konsep diri negatif adalah konsep diri yang menghambat seseorang untuk maju dan sukses meraih tujuan kemanusiaannya. Yang dimaksud tujuan kemanusiaan disini adalah tujuan besar yang membuat manusia berhasil mengaktualisasikan dirinya secara optimal, baik dalam ukuran duniawi maupun ukhrowi.
Ketika kita berbicara tentang konsep diri seorang mentor berarti kita berbicara tentang sebagian dari konsep diri kita secara utuh. Artinya, dalam konsep diri seorang mentor, ia memahami bahwa salah satu perannya (bahkan peran terpentingnya) adalah sebagai mentor. Ia berupaya dengan kesadaran konsep dirinya tersebut untuk menjadi mentor yang berkualitas dan selalu berambisi meraih kemajuan sebagai mentor.

Bagaimana membangun konsep diri positif seorang mentor?
Yang diharapkan dari seorang mentor adalah munculnya konsep diri positif terhadap perannya sebagai mentor. Bukan sebaliknya, malah muncul konsep diri negatif terhadap perannya sebagai mentor.
Konsep diri yang negatif terhadap mentor muncul karena berbagai hal. Antara lain, karena kegagalan menjadi mentor di masa lalu, ketidakpercayaan diri terhadap kemampuannya sebagai mentor, penilaian lingkungan yang kurang menghargai peran mentor, ketidakpahaman terhadap peran mentor yang strategis dalam membangun umat, dan lain-lain. Beberapa contoh konsep diri negatif terhadap mentor bisa tercermin dalam ungkapan berikut:
“saya tidak berbakat menjadi mentor”; “saya belum memiliki pengalaman dan pengetahuan sebagai mentor”; “saya sendiri belum baik, kok sudah berani menjadi mentor”; “saya tidak melihat pentingnya menjadi mentor”; “masih banyak pekerjaan lain yang lebih penting daripada menjadi mentor”; dan ungkapan lain yang senada. Padahal, semua konsep negatif tentang mentor tersebut tidak betul. Bukan hanya tidak betul, tapi juga bisa menghambat upaya untuk melahirkan mentor-mentor berkualitas yang sangat dibutuhkan dalam membangun kejayaan umat.
Oleh karena itu, seorang mentor perlu membuang jauh-jauh konsep diri yang negatif tentang mentor dan menggantikannya dengan konsep diri yang positif. Hal ini membutuhkan perubahan paradigma (cara memandang) yang drastis tentang perannya sebagai mentor. Sebuah kalimat bijak mengatakan: “Anda adalah apa yang anda pikirkan”.
Jadi, perubahan paradigma membutuhkan perubahan pada apa yang kita pikirkan tentang sesuatu. Kemudian apa yang kita pikirkan itu selalu diulang-ulang, sehingga menjadi pola piker dan mental yang kita yakini kebenarannya. Begitulah kira-kira cara kita menanamkan konsep diri yang positif tentang mentor. Salah satu cara menanamkan konsep diri positif tentang mentor adalah dengan mengetahui manfaat menjadi mentor, terutama manfaatnya bagi diri kita sendiri.

Apa Manfaatnya BagiKu menjadi mentor ?
Pertanyaan ini perlu sering diulang-ulang agar kita semakin yakin dengan peran kita sebagai mentor. Yang jelas, menjadi mentor tentu saja banyak manfaatnya, di antaranya adalah:
1. Mendapatkan pahala yang berlipat ganda.
Barang siapa yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain maka ia akan mendapatkan pahala. Semakin efektif sarana pengajarannya, semakin berlipat ganda pahala yang akan didapatkan. Menjadi mentor adalah sarana yang paling efektif untuk mengajar kebaikan kepada orang lain. Karena itu, menjadi mentor akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda.
2. Belajar berbagai keterampilan
Dengan menjadi mentor, kita akan belajar tentang berbagai hal. Misalnya, belajar tentang
bagaimana cara meningkatkan kepercayaan diri, komunikasi, bergaul, mengemukakan pendapat, mempengaruhi orang lain, merencanakan sesuatu, menilai orang lain, mengatur waktu, mengkreasikan sesuatu, mendengar pendapat orang lain, mempercayai orang lain, dan sebagainya. Pembelajaran tersebut tak akan didapatkan di sekolah formal. Manfaat pembelajaran itu bukan hanya akan meningkatkan kualitas pembinaan selanjutnya, tapi juga bermanfaat untuk kesuksesan hidup seorang mentor.
3. Meningkatkan iman dan taqwa.
Dengan menjadi mentor, seseorang akan dapat meningkatkan iman dan taqwanya kepada Allah SWT. Secara psikologis, orang yang mengajarkan orang lain akan merasa seperti menasehati dirinya sendiri. Ia akan berupaya meningkatkan iman dan taqwanya kepada Allah seperti yang ia ajarkan kepada orang lain. Dampaknya, hidupnya akan menjadi tenang karena dekat dengan Allah dan terhindar dari kemaksiatan.
4. Merasakan manisnya pergaulan dan persaudaraan (ukhuwah)
Untuk mencapai tujuan pembinaan, seorang mentor dituntut untuk mampu bekerjasama dengan orang-orang yang dibinanya. Kerjasama ini akan mengarah pada terbentuknya ukhuwah Islamiyah di antara mentor dengan orang yang diasuhnya. Betapa banyak orang Islam yang tidak dapat merasakan manisnya ukhuwah dan pergaulan. Namun dengan menjadi mentor, kita akan berpeluang merasakan manisnya ukhuwah.

Selain manfaat bagi diri sendiri, menjadi mentor juga bermanfaat dalam :
1. Melaksanakan kewajiban syar’i
Kegiatan pembinaan tidak akan berjalan tanpa adanya dua pihak, mentor dan peserta (orang yang dibina). Karena itu, keberadaan mentor dan peserta menjadi keharusan. Allah berfirman :
“..Hendaklah kamu menjadi orang-orang robbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya ” (QS. 3 :79).
Pada ayat tersebut, Allah menyuruh setiap muslim menjadi mentor (mengajarkan Al Kitab) dan menjadi peserta (mempelajari Al Kitab). Tidak boleh hanya mau menjadi peserta saja, tapi tidak mau menjadi mentor. Jadi kesimpulannya, setiap muslim wajib mengupayakan dirinya untuk menjadi mentor, selain juga menjadi peserta itu sendiri.
2. Melaksanakan sunnah Rasul
Rasulullah saw telah membina sahabat-sahabatnya dalam majelis zikir atau pembinaan
kelompok kecil. Rasulullah membina kelompok kecil sepanjang hidupnya, baik ketika di Mekah (contohnya di Darul Arqom) maupun di Madinah (contohnya majelis ta’lim di Masjid Nabawi). Jadi, menjadi mentor adalah melaksanakan sunnah rasul.
3. Membina adalah mencetak pribadi-pribadi unggul
Nabi Muhammad saw adalah seorang mentor yang telah berhasil mencetak generasi terbaik sepanjang masa. Karena itu, menjadi mentor juga berarti turut serta dalam membina pribadi-pribadi unggul harapan umat dan bangsa. Sangat aneh jika seorang muslim tidak mau menjadi mentor padahal ia sebenarnya sedang melakukan tugas yang besar dan penting bagi masa depan umat dan bangsa.

Profil Mentor Ideal
Selain memiliki konsep diri yang positif tentang mentor, seorang mentor juga harus mempunyai gambaran yang ideal tentang mentor. Gambaran ideal ini bukan untuk mematahkan semangatnya menjadi mentor, tapi justru menjadi pemicu agar selalu meningkatkan kualitasnya sebagai mentor.
Sesungguhnya, gambaran ideal seorang mentor adalah Nabi Muhammad saw. Beliau adalah mentor (murobbi) sejati. Jadi, secara konsepsual jika ingin menjadi mentor ideal seyogyanya kita mencontoh pribadi Nabi, terutama mencontohnya dalam membina (mendakwahi) oranglain. Bagaimana cara Nabi menjadi mentor dapat dengan mudah ditemukan di berbagai buku tentang Sirah Nabawiyah.
Namun jika kita ingin membuat formula sederhana tentang gambaran mentor ideal, maka
dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Mentor ideal adalah mentor yang dapat memberikan keteladanan
2. Mentor ideal adalah mentor yang rajin memberikan “setoran” kebaikan kepada orang yang dibinanya
3. Mentor ideal adalah mentor yang cakap berkomunikasi (memberikan penjelasan, arahan, dan motivasi).

Selain itu, mentor ideal adalah mentor yang :
– Memiliki pengetahuan tentang Islam sebagai minhajul hayah (metode hidup), khususnya menguasai kurikulum pembinaan.
– Mempunyai kemampuan membaca dan menulis huruf Arab, meskipun tingkat dasar.
– Tidak terbata-bata dalam membaca Al Qur’an.
– Mempunyai kemampuan mengorganisir.
– Mempunyai kemampuan merespon dan menyelesaikan masalah.
– Mempunyai kemampuan menyampaikan ide dan pengetahuannya kepada orang lain.
– Berusaha menghiasi dirinya dengan akhlaq Islami, khususnya akhlaq sebagai seorang mentor.

Akhirnya, kita berharap semoga semakin banyak dari tubuh umat ini lahir para mentor sejati. Yaitu, mentor yang bukan hanya siap secara mental dan pikiran untuk menjadi mentor, tapi juga selalu antusias meningkatkan kemampuannya (sebagai mentor). Mentor sejati juga adalah “mentor seumur hidup”. Artinya, ia menjadikan peran mentornya sebagai salah satu peran penting dalam hidupnya yang tak pernah dan tak boleh dilepaskan seumur hidupnya. Wallahua’lam.

Kiat Menjadi Mentor Asik
– Ikhlas
Luruskan niat, segala yang kita lakukan untuk mengharap ridho Allah semata
– Menghafalkan nama
Menghafalkan nama merupakan salah satu kunci pembuka hati. Hafalkanlah nama binaan/murid kita, nama panggilannya, nama keluarganya (suami, anak,orang tua), alamatnya, hobbynya dsb agar terjadi hubungan yang lebih akrab dengan mereka. Orang tentu akan senang dan merasa diperhatikan jika kita panggil dengan nama kesayangannya.
– Bermuka manis dan banyak senyum
Bermuka manis merupakan salah satu kewajiban seorang muslim kepada muslim lainnya. Bahkan dikatakan bahwa senyum adalah shodaqoh yang paling mudah.
– Kuasai materi
Materi harus dikuasai dengan baik, kalau bisa tambah dengan materi pendukung diluar materi pokok. Jika materinya saja kita nggak menguasai, bagaimana bisa menyampaikan dengan baik? Ingat, kita bisa memberi kalau kita mempunyai sesuatu.
– Siapkan mental dan ruhiyah
Siapkan mental dan ruhiyah sebelum memberikan materi dengan cara memperbanyak ibadah mahdhoh seperti shalat sunnah dan tilawah Al Qur’an. Jangan lupa berdo’a agar dimudahkan dalam memberikan materi.
– Bicara dengan bahasa mereka
Berbicara dengan anak sekolah tentu harus dibedakan dengan berbicara kepada ibu rumah tangga, berbeda juga dengan berbicara pada profesional. Harus menggunakan pendekatan yang berbeda sesuai dengan kapasitas mereka. Ketika berbicara dengan ibu rumah tangga, tak perlu bahasa yang ilmiah ataupun hi-tech (istilah negri BBM), gunakan bahasa yang sederhana yang mudah mereka mengerti. Hubungkan materi dengan kehidupan sehari-hari mereka seperti masalah anak, tetangga, suami, dsb. Ketika berbicara dengan anak sekolah, hubungkan materi dengan pelajaran sekolah. (mentor yang baik harus banyak belajar). Misalnya ketika materi banyak disinggung ayat-ayat yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan (Fisika, Kimia, Biologi, Sejarah, dll). Insya Allah mereka akan semakin antusias. Jangan kaget kalau kemudian mereka akan bertanya tentang banyak hal dari A-Z.
– Siapkan ice breaking
Adakalanya ketika belajar orang menjadi bosan/mengantuk. Karena itu siapkan ice breaking berupa games, jokes atau teka-teki. Bisa juga dengan senam otak.
– Beri hadiah
Sesekali berikan hadiah, tak perlu yang berharga mahal atau mewah, tapi berikan sekedar kemampuan kita. Hadiah bisa berupa buku kecil, sebatang coklat atau mungkin pembatas buku buatan kita sendiri.
– Do’akan
Terakhir, dan yang paling penting. Jangan lupa do’akan mereka agar selalu mendapat hidayah dari Allah Sang Pemberi Hidayah

Simulasi Mentoring

1. Luruskan niat hanya untuk Allah Ta’ala
2. MC* membuka acara yang diawali dengan membaca lafadz Basmallah (Mente)
Muqoddimah :

• اَلْحَمْدُِللهِ الَّذِي نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ وَ نَتُوْبُ إِلَيْهِ وَنَعُوْذُبِاللهِ مِنْ شُرُوْرِأََنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِناَمَنْ يَهْدِي الله ُفَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَ مَنْ يُّضْلِلْهُ فَلاَهَادِيَ لَهُ.

Atau

• اَلْحَمْدُِللهِ الَّذِي اَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَ كَفَى بِاللهِ شَهِيْدًا.

Shalawat atas Nabi Muhammad SAW

أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَالله ُوَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ, لاَ نَبِيَّ بَعْدَه ُ

3. Tilawah Al-Quran dan Mentadabburi Artinya, dilakukan secara bergantian (Mentor & Mente)
4. Kultum* (Mente)
5. Materi + Tanya Jawab (Mentor)
6. Sharing dan Penentuan agenda/jadwal pertemuan berikutnya
7. MC menutup acara (Akhiri dengan lafadz Hamdallah, Istighfar dan Do’a Penutup Majlis)
Do’a Penutup Majlis:

سُبْحَانَكَ اللَّّهُمَا وَ بِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَ أَتُوْبُ إِلَيْكَ

• MC dan Kultum sudah ditentukan saat pertemuan sebelumnya yang Mentee.

Sumber:

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: